Sehimpun Prosa Karya Hamadya Hilma


Bagaimana Caraku Dulu Mencintaimu, Madura

Oleh Hamadya Hilma

Desir ombak pesisir selatan rumah kita

Jeling mata yang menambat

Pasang-surut air itu

Aku semakin ragu

Adamu dan tiadamu, Madura

Namun, cinta mengumumkan :

Engkau ada*

 

Di tepian, di muka rumah kita

Ayunan sampan yang senantiasa

Dibanting keras air asin laut permai

Selalu saja buat bising

Telinga ku punya, setiap

Cahaya bulan memantul

Benderang pada larut malam

Selepas mataku meninggalkan kantuk

Mentahajjudkan selat kau punya

Agar senantiasa gagah perkasa

Dengan sekonyong ombak menghardik angin

 

Lagi-lagi perantaunku yang

Telah membekas tapak rindu jalan

Melepas seluruh jiwa tanpa

Kenangan yang ku jual

Pada terik matahari di balik awan

Di atas kepalaku,

 

Aku menyadari bahwa

Cinta atas tanah kapur, utara

Selat Madura, telah

Tertanam sejak riak tangisku dahulu

Menggema memecahkan sunyi

Hingga akhir batas perpisahan jiwa

Dan ragaku menghentak lubuk

Hati, menampakkan cinta

 

Lantas ungkapan

‘Cinta tidak menyadari kedatangannya,

Sampai ada saat perpisahan’

**

Adalah benar adanya

Hingga apalah dayaku perbuat

Atasmu

Sampai aku lupa bagaimana caraku dulu mencintaimu, Madura

Bakau kau punya, yang

Dihantam oleh pengembala

***

Sebelah rumahku

Tanpa teguran terucap dari kering bibir ku punya,

Lantas, bagaimana caraku dulu mencintaimu, Madura

Bukankah sumpah serapah nenak moyang yang kau percayai sebagai

Ajimat kehidupan

Adalah bibit subur sebuah kebodohan

Hingga makan lauk-pauk lebih

Banyak daripada nasi****

Merupakan hal yang terlarang

Lantas, kebodohan mana yang kau dustai itu

 

Madura, bagaimana caraku dulu mencintaimu

Di tempat perantaunku

Kota-kota besar menjulang tinggi merupakan pertemuan yang mengecewakan

*****

Bagaimana kota kau punya

Tiada batas dirundung suap

Menjadikan desa di tempat perantaunku,

Adalah kota dimana tali pusar ku

Ditanam senyawa dengan ruh-ruh

Samista alam sana

 

Lantas, bagaimana caraku dulu mencintaimu, Madura

Hari-hari akhir bersamamu

‘Dengan tegas ku nyatakan diri sebagai musuh

Dari siapa pun, yang berniat menjadikan kita orang

Eropa dan menginjak-injak adat istiadat dan

Kebisaan kita yang suci’

******

 Dan rekaman itulah yang aku ingat sebelum akhir perpisahanku

Denganmu,

Melepas rindu menapak tilasi

Tanah kapur gersang itu

 

Lantas, bagaimana caraku dulu mencintaimu, Madura

 

Cacatan :

*: Merupakan gubahan kalimat dari Muhammad Iqbal

**: Merupakan gubahan kalimat dari Kahlil Gibran

***: Dalam adat istiadat rumahku, sebagai anak pesisir. Bakau-bakau yang ditanam di laut, selalu saja diambil oleh para pengembala nakal yang tak tahu-menahu.

****: Sejak aku kecil, oleh nenekku sering diperingatkan untuk tidak memakan lauk-pauk lebih banyak daripada nasi. Karena menurut yang ia tutur kata kepadaku, hal tersebut merupakan perilaku yang buruk. Namun setelah menginjak kelas enam SD, bapakku berucap bahwa hal itu merupakan kebohongan yang dilestarikan oleh leluhur demi menghemat uang yang mereka punya.

*****: Mulai aku mengembara ke Jawa desa-desa di sana hampir menyerupai kota besar di kampung halaman berada. Hingga merupakan pertemuan yang mengecewakan bagiku bagaimana kampung halamanku selalu melakukan praktik suap-menyuap.

******: Merupakan penggalan pidato Sosrokartono di Belgia pada September 1899 dalam kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25. Yang mana ungkapan tersebut hampir menyamai keadaan sosial di kampung halamanku pasca dibangunnya jembatan Suramadu.

 

Cinta Yang Lusuh

 Oleh Hamadya Hilma

Tentang bagaimana caraku dulu mencintaimu

Tak lain merupakan malapetaka samista yang aku ingat hingga lusuh melumat rasa

 

Tentang pedagang asongan yang membawa laci, berjalan dari rumahku,

Ada caraku pertama, bagaimana menjual laci beserta seluruh kenangan

Dengan tumpukan lembar surat yang sudah mulai digerogoti rayap

 

Tentang diriku yang membisu selepas pertemuan terakhir

Bersamamu di balik semak belukar belakang rumahku,

Itulah zuhudku bagaimana aku tak lagi mendustai bibir

Hingga batas akhir ku punya hidup

 

Tentang sebuah rasa yang telah menjadi anasir

Membentuk raga dan jiwa sejak dulu kehadiranmu

Telah berakhir semuanya membuat jiwa tanpa ruh

Hingga lengang sebuah ruang, lantas

Bagaimana aku tergagap-gagap meluapkannya

 

Tentang kecelakaan di depan rumahmu,

Kemarin sore

Merupakan rencanaku bagaimana melumpuhkan kedua kaki

Hingga aku irngkih menujumu

Dan menapak tilasi semua jejak langkah

Dengan cucur darah dan tetes air mata

Menyesali hal ku perbuat atasmu dahulu

 

Tentang keinginanku atas kesekian kalinya

Menjerat kesempatan bagaimana

Aku hidup abadi

Adalah aku ingin menjadi gila

Hingga bagaimana aku mengomel sembarang

Merupakan caraku bagaimana

Menjadi bisu, sampai

Tak merasa kedua mulutku tak henti-hentinya

Merapalkan “Bajing, kau! Bajing, kau!

Asu kau punya tubuh!”

Ungkapan begitu selalu

 

Karena menjadi gila adalah

Caraku menghilangkan rasa

Dari penat ku meringkih

Dengan kaki lumpuh menujumu

Sampai pada akhirnya bercak darah yang mengucur

Membayar jejak langkah yang pernah ku dustai dahulu bersamamu

Tak lagi membuat aku mengingat kengangan nisbi itu

Sehingga aku memaksa

Bagaimana air mataku menetes dengan deras

Mensamudrai napak tilas darah ku buat

Sebgai bukti bagi samista alam

Bagaimana aku menmbus dosa yang ku punya

Untuk tak lagi aku mengungkapkannya

Tentang bagaimana caraku dulu mencintaimu

 

Bagamana Kau Ku Namai

Oleh Hamadya Hilma

Bagaimana aku memujimu

Menggunjingmu pun

Kasih sayangmu mengalahkan semuanya

Bukankah sebuah kata,

Yang menghujat lubuk hati

Lebih menyayat dari

Rona kengerian pukulan

 

Lantas bagaimana nasib kasih sayang itu

Sedangkan lubuk hati kau punya seharusnya berbercak darah

 

Sungguh,

Bagaimana kau ku namai

Adalah sumpah serapah bagi harapan itu tumbuh

 

Taggal 10 Rajab 1441

Meskipun aku masih gagap merapalkannya,

Dan bagaimana pula

Aku masih bimbang lebih dulu mana antara toleransi dan kasih sayang

Lebih mendahului bimbangku mana dulu antara ayam dan telur itu ada

 

Lantas, Bagaimana kau ku namai

Detik di saat aku ingat betul petuah itu

‘Tidak penting apa pun agama dan sukumu.

Kalau kau bisa berbuat baik

Bagi semua orang. Orang tidak akan

Tanya apa agamamu.”

Celoteh Bapak Tionghoa itu pun semakin

Menggoyahkan betapa kesumat dan murung ati

Mempersoalkan ketidakpastian

Melusuhkan akal seperti terkulai di atas tanah

Persis pada saat perang Jawa itu terjadi

 

Latas, Bagaimana kau ku namai

Secara habis-habisan akalku ku bentur hingga aku dapati

Falsafah sederhana dari lubuk hati bergumam

Toleransi diburai angin

Akan menjadikannya kasih sayang,

Sehingga kasih sayang yang terburai olehnya

Dirajuk kembali menjadikannya toleransi

 

Hingga petuah Semar itu aku ingat betul

Bahwa hidup itu menghidupkan

Dan aku dapati kesimpulan,

Toleransi dan kasih sayang adalah

Satu hal yang hidup dan menhidupkan

 

Lantas, aku pun gamang

Bagaimana kau ku namai?

 

Paiton, 11 Maret 2020

 

Ingatan Anak Akan Bapaknya

Oleh Hamadya Hilma

Rona kengerian meremang bulu kudukku

Ketika kau pernah bercerita

Bahwa siapa ikut gerakan merah itu

Akan terhunyung dalam sumur*

Hingga haru-biru partai mereka

Tiada batas hari meregang nyawa

 

Aku ingat betul

Kursi dipan di dapur makan

Utara tempat persembahyangan kita

Kau selalu berceloteh laiknya pencerita handal

Ketika matahari mulai lusuh dan ringkih

Betapa masygul kau,

Saat jewantahanmu pun mulai kau ceritakan

Hingga,

Cengar-cengir ku punya ati

 

Namun,

Ketika daun memba** itu teranyam oleh lidahku***

Saat-saat kecil tubuhku bergeming

Menyuarakan isak tangis menganggu malam

 

Inilah aku pertama kali

Mengenal, bahwa murka lebih terlihat

Dari rona wajahnya ketimbang kelembutan

 

Saat remaja tiba,

Mengingat hari dimana rangkakku masih tertatih itu

Aku pun bergumam dalam lubuk paling dalam

‘bagaimana pun tindakannya, ku tak terima andai ia menjadi guruku’

Namun kado tuhan bagiku

Sebagaimana layaknya ia menjadi Hyang Widi

Adalah menjadikanku bagian dari keluarganya

 

Sungguh, bagaimana hasrat aku

Menggunjingnya,

Samista alam lebih menyukai memayungiku

Dengan lautan kasih sayang empunya si Bapak

Akhirnya,

Sayatan luka hati ku miliki

Temaram dalam kerindangan puncak rahmatnya

 

Saat-saat dewasa ketika aku

Mengenal Ibnu Rusyd

Sebagai filosof awal abad-12

Aku masih mengenalmu

Sebagai Bapak Rusdi biasa,

Orang Mapper, Proppo

Yang meminang orang Pesisir

Utara Selat Madura itu,

 

Keharibaan waktu saat itu

Lebih mengikatkanku bagaimana

Kesumat dalam hati

Tak kelabu lagi

Namun,

Bagaimana pun aku, Ibnu Rusyd

Si Anak empunya Sang Bapak

Mengakui kelihaiannya masih tergagap

Dengan Averroes itu,

 

Sampai kau dapati aku berada dalam bedil

; memisahkan nyawa dari badan

Walaupun aku masih ingin

Mayat yang dikubur, adalah

Dia yang mati dengan wajar****

Akan ku rapalkan dalam sumpah serapahku

Pada setiap malam jum’at kala kemenyan itu

Mengasap dengan tinggi,

Aku akan rapalkan namamu

Hingga tahuku akan Averroes itu

Hilang seperti aku tak pernah

Mengetahuinya,

 

Paiton, 11 Maret 2020

 

Cacatan :

*: Setiap senja tiba, Bapak sering menceritakan bagaimana tutur dari sesepuhnya dulu bahwa di balik sumur samping rumahnya pernah terjadi pembunuhan sadis terhadap anggota PKI padsa tahun 1965.

**: Sejenis daun yang biasa orang Madura kenakan sebagai ramuan herbal sekadar kekebalan jasmani.

***: Pada saat aku kecil, ketika tangis mulai melengking pada suatu malam. Pernah pada saat itu pula dengan kegeramannya ia menelankan jamu itu mentah-mentah ku mulutku.

****: Kalimat ini adalah ubahan yang diambil dari salah satu prolog Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

 

Aku Ingin

Oleh Hamadya Hilma

Aku tak ingin mengucapkan

Selamat tahun baru

Karena bagiku,

Penggali liang lahat itu

Semakin hari semakinbertamu degan waktu

Aku tak ingin mengucapkan

Selamat tahun baru

Karena bagiku,

Semakin hari semakin nyata diri-Nya

Dengan penggali liang lahat itu.

___

Tentang Penyair 

Nama               : Faizis Sururi (Hamadya Hilma merupakan nama penanya)

Alamat            : Kaduara Timur, Pragaan, Sumenep

Profesi             : Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid

Facebook         : FA IZ

No. Hp             : 0819 4619 5598


2 comments:

  1. PERMAINAN ONLINE TERBESAR DI INDONESIA

    Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia ^^
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat :)
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino

    - Adu Q
    - Bandar Q
    - Bandar Sakong
    - Bandar Poker
    - Poker
    - Domino 99
    - Capsa Susun
    - Bandar66 / Adu Balak
    - Perang Baccarat ( GAME TERBARU )

    Permainan Judi online yang menggunakan uang asli dan mendapatkan uang asli ^^
    * Minimal Deposit : 20.000
    * Minimal Withdraw : 20.000
    * Deposit dan Withdraw 24 jam Non stop ( Kecuali Bank offline / gangguan )
    * Bonus REFFERAL 15 % Seumur hidup tanpa syarat
    * Bonus ROLLINGAN 0.3 % Dibagikan 5 hari 1 kali
    * Proses Deposit & Withdraw PALING CEPAT
    * Sistem keamanan Terbaru & Terjamin
    * Poker Online Terpercaya
    * Live chat yang Responsive
    * Support lebih banyak bank LOKAL Yaitu : Bca, Bri, Bni, Mandiri, Danamon, Cimb niaga , Permata Bank dan Ocbc Nisp
    * Tersedia deposit via pulsa telkomsel dan XL serta OVO juga


    Contact Us

    Website SahabatQQ
    WA1 : +855972076840
    WA2 : +855887159498
    LINE : SAHABATQQ
    FACEBOOK : SahabatQQ Reborn
    TWITTER : SahabatQQ Official
    YM : cs2_sahabatqq@yahoo.com
    Kami Siap Melayani anda 24 jam Nonstop

    Agen Domino99
    Regiter
    Dewa Nafsu
    Artikel Poker
    Kesehatan
    #sahabatQQ #winsahabatQQ #winsahabat #kartusahabat #windaftar

    ReplyDelete
  2. vWebsite paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    www.arenakartu.cc
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.