Damaikan Era Digital Dengan Sikap Toleransi Santri Millenial

Damaikan Era Digital Dengan  Sikap Toleransi Santri Millenial

Akhir-akhir ini kerap kita ketahui dari pelbagai media mainstrem yang seakan tanpa henti mengabarkan persoalan yang menyangkut kekerasan seksual, tindakan eksploitasi, kriminalitas, diskriminasi antar ras dan masih persoalan lainnya hingga mengundang konflik yang tak berkesudahan. Dunia seakan berpetak-petak sesuai dengan tingkat kemakmuran dan kedamaian suatu bangsa. Di Indonesia sendiri yang notebenenya adalah masyarakat majemuk dalam pelbagai aspek seperti dari segi etnis, budaya, suku, ras,adat istiadat dan juga keyakinan masih saja mudah kita temui kasus-kasus tentang intoleransi. Pancasila yang seharusnya menjadi pedoman ideologi bangsa Indonesia seperti pemanis mulut saja. Banyak diantara masyarakat kita yang masih tak paham betul esensi dari pancasila. Bahkan parahnya ada juga yang masih tak hafal sila-sila pancasila seperti kasus Zaskia Gotik saat tersandung penistaan pancasila beberapa tahun silam. Dari kasus tersebut menunjukkan bahwa perlu usaha ekstra dari pemerintah untuk lebih menggencarkan toleransi di penjuru negeri. 

Sebagai negara penuh keberagaman budaya, Indonesia tentunya menjadi tolak ukur toleransi dunia. Namun herannya, pada tahun 2018 kasus intoleransi di Indonesia membengkak menjadi 13 persen daripada tahun-tahun sebelumnya seperti survei yang dilansir oleh Detik News. Beberapa survei setara institute pun juga telah membuktikan Indonesia mengalami degradasi toleransi yang makin signifikan. Kalau begitu, siapa yang akan bertanggung jawab atas persolan intoleransi ini? 

Rasa toleransi antar umat haruslah tetap menggelora di benak masyarakat kita baik bagi kaum kapiran maupun kaum elit sekalipun. Peningkatan intoleransi yang terjadi di Indonesia menurut riset yang diprakasai oleh Setara Institute menunjukkan bahwa politik praktis merupakan faktor utama yang dimainkan oleh kaum elit. Kekuasaan yang menjadi aktor utama seakan menjadi momok yang menakutkan bagi kaum kapiran. Masyarakat yang tak tahu menahu akan permainan politik pun akan menjadi korban persaingan politik tersebut. Tak ayal jika diskriminasi akan timbul jikalau masyarakat sudah terjerumus dalam pergulatan politik negara kita. Kalau begitu, apakah kita akan terus menerus membiarkan masyarakat kita dihantui dengan rasa tak aman akibat perlakuan tak adil okrnum yang tak bertanggung jawab tersebut? Pastinya, sebagai warga negara yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila kita masih punya kewajiban untuk memberantas segala macam bentuk keintoleran yang mulai menggerogoti negara kita. Dengan itu kita perlu untuk kembali meneguhkan sikap toleransi pada segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. 

TOLERANSI SANTRI MILLENIAL 

Semakin maju peradaban suatu bangsa tentu menunjang untuk semakin kompleks persoalan yang harus diselesaikan. Untuk persolaan yang beredar di era digital ini, intoleransi menjadi persoalan yang perlu penanganan khusus dari pelbagai kalangan baik pemerintah maupun rakyat biasa. Indonesia dengan jumlah muslim terbanyak di dunia menjadi harapan bangsa untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, islam mengajarkan untuk tetap menjaga keharmonisan antar umat. Budaya toleransi pun sudah islam ajarkan pada surah Al-Kafirun ayat 1-6 sehingga patut dipermasalahkan jika masih saja banyak muslim yang tak bersikap toleran. Dalam dunia islam, kita diajarkan untuk menghargai keyakinan seseorang yang berbeda dengan kita atau biasanya muslim mengistilahkannya dengan konsep tasamuh. 

Santri yang merupakan seseorang yang tinggal dan belajar di pesantren tentu telah paham betul 4 konsep ajaran yang ada pada islam yakni tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan ta’addul (adil). Dengan memahami esensi manusia sebagai manusia sosial, tentu seluruh masyarakat Indonesia baik yang santri maupun tidak akan bersikap toleran pada apapun. 

Santri yang diidentik dengan kaum sarungan pun bahkan sudah merasakan sendiri bagaimana mengemplementasikan sikap toleransi pada kehidupan sehari-hari. Mengapa demikian? Karena tanpa kita sadari atau tidak sebagai seorang santri yang hidup bersama dengan orang-orang baru dari pelbagai penjuru negeri justru menjadi pendidikan karakter terefektif dari pada sekedar teori. Dengan inilah jargon Lerning by Doing sudah melekat erat dengan budaya santri. Santri yang sebelumnya tak pernah mengenal akan satu sama lain menjadi akrab seiring waktu hingga pada akhirnya timbullah rasa kekeluargaan yang erat. Rasa kepemilikan, saling tolong menolong dan saling menjaga satu sama lain telah menjadi ciri khas seorang santri selain kaum sarungan. Dengan dibantu kemajuan tekhnologi pada era digital ini, pesantren mulai berkiprah jauh dari periode-periode sebelumnya sehingga klaim santri itu kudet, kumuh, tak gaul, dan hanya paham agama saja mulai bergeser. Dengan banyak mengkonsumsi ilmu agama, tentunya santri lebih bisa untuk membentengi diri mereka dengan nilai-nilai ajaran agama hingga tak mudah terpengaruh pemikiran radikal maupun liberal. Bibit intoleran yang kerap terjadi pada mulanya pun berawal dari masuknya pemikiran-pemikiran radikal pada masyarakat Indonesia tanpa adanya filter terlebih dahulu. Akibatnya, paham-paham tersebut mudah diserap oleh orang-orang yang masih dangkal ilmu pengetahuan dan agamanya. Ajakan jihad yang digempur-gempurkan oleh oknum tertentu seakan membentuk aliansi agar sikap intoleran terus menerus menjamur dan pada akhirnya akan menghancurkan bangsa itu sendiri. Naudzubillah. 

Dan juga dapat kita tabayyunkan lagi pegangan hidup warga Nahdliyin yang bermakna, 

“Melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik pula”.

Dalam konsep ini, kita diajarkan untuk tetap melestarikan budaya kita yang masih relevan dengan kehidupan kita saat ini, juga kita dapat mengambil pelbagai budaya baru yang tentunya bernilai positif bagi kita. Maka, ketika budaya asing mulai masuk pada kehidupan kita, kita dapat mendialogkannya lalu menerima sisi positifnya dan membuang sisi negatifnya. 

Untuk santri, seberapa jauh kelak akan melangkah pergi dari pesantren, seberat apapun persoalan yang akan menerjang kehidupan masa depan, dengan terus memegang teguh prinsip agama Islam kedamaian suatu bangsa pasti akan mudah untuk dirasakan. 


*) Nada Fitria (Penulis merupakan santriwati yang bercita-cita sebagai jilbab traveler dan penggerak literasi bagi semua kalangan, utamanya perempuan.)

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    www.arenakartu.cc
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.