Pulang - Sebuah Cerpen Untuk Minggu Ini


” Tak peduli kemana dan sampai kapan,
Yang pasti, kaki-kaki itu akan berhenti,
Entah hanya berteduh atau bahkan menetap”

Hujan deras baru saja tiba, mengguyur halaman berumput, menguarkan aroma liat yang sedap. Pandanganpun mulai berkabut, pendengarannya berdengung bising suara air yang bertempur dengan asbes di sana. 

Pelan, ada suara derik pagar berkarat yang ditarik, memperlihatkan perempuan bergaun putih sebetis, beraroma kenanga yang berlari menerobos hujan, masuk kepelantaran rumah lalu berdiri di terasku. Aku menghela napas, dia pulang rupanya. Dengan tongkat kayu penopangku, aku terlatih keluar rumah, menemaninya di kursi depan pintu. Dia tersenyum. 

Amboi, cantik sekali istriku ini. Rambutnya basah, tangan dan wajahnya putih pucat, bibirnya kering, dan kulitnya sedingin es. Aku tak berani menyentuhnya. Takut menggigil, “aku pulang,” ujarnya dengan suara sumbang dan menggema, aku mengangguk-anggukkan kepala lalu ia tersenyum lagi, memamerkan lesung pipit yang hanya sebelah. “Aku menunggumu sepanjang Desember ini,” ucapku. Dia terdiam dengan mata menerawang, menatap halaman yang masih basah karena hujan. 

Dulu. Dulu sekali, aku dan istriku, suka menatap hujan di kala senja, lebih-lebih di bulan Desember. Kami suka menghabiskan sisa hari ditemani secangkir coklat panas hingga tandas. Dan sampai detik inipun semuanya masih sama. Bahkan saat usia anak pertamaku dan dia, sudah berumur setengah abad. 

Lucunya, dia masih membujang. Sampai detik ini, entah apa yang membuatnya bertahan sampai saat ini, tapi aku tak pernah memaksanya. Biarlah dia tua dengan pilihannya. Perlahan, hujan mereda, aroma kenanga kembali menguar dipenciuman. “Aku rindu Sutikno” itu nama putra kami “putra kita tumbuh gagah” ucapku, “kami boleh pulang, teramat sangat boleh, tapi aku mohon jangan temui sutikno, dia masih belum siap” aku melihat ada air mata yang mengalir di lereng pipinya. Tapi lagi-lagi aku tak berani menyentuhnya. Pantangan besar bagiku. 

“Aku rindu Sutikno” ulangnya. Kali ini sambil terisak dengan suara sumbang dan menggema, purau dan memilukan mengiris hati, menyayat batin bagi yang mendengar. “jangan menangis, kumohon” tapi dia malah makin sesenggukan. Membuatku kelimpungan, bingung ingin berbuat apa. Samapai akhirnya hujan benar-benar berhenti. Menyisakan genangan-genangan di halaam berumput. Dia bengkit dari duduknya, menatapku lalu tersenyum. 

Amboi, cantik sekali istriku ini. Dia melambai sejenak, pamit pergi lagi, entah sampai kapan. Melayang di atas rumput, melewati pagar berkarat hingga lenyap ditelan kabut. Aku menghela napas, rupanya usiaku sudah renta sekali, sudah tiga perempat abad sebulan lalu membuatku terkekeh pelan menyadarinya. Lalu, ada sedan hitam keluar dari arah kiri, berhenti di trotoar jalan depan rumah. Itu Sutikno, putra satu-satunya yang paling gagah. Dia keluar dari mobilnya. Dengan celana hitam, dan kemeja biru dimasukkan, berpantofel dan tas dijinjing hitam entah apa isinya. Ia menutup pagar yang terbuka lalu berjalan pelan manuju arah teras, saat melihatku matanya berbinar, mirip ibunya, tangan dinginnya menyalamiku lalu mencium punggung tanganku yang keriput. “Duduk dulu nak, bapak ingin bicara” dia menurut lalu duduk tepat di kursi yang di duduki ibunya tadi. “Ada jadwal apa besok lusa?” “akhir pecan ini?” tanyanya, aku mengangguk “tak ada pak, kenapa?” aku tersenyum penuh makna, “ini akhir tahun, dan hujan pertama di Desember ini” “lalu?” ujarnya bingung, “tadi ibumu berkunjung, pulang sejenak, bilang kalau dia rindu kamu” kulihat Sutikno menelan ludah gelisah, “bagaimana kalau kita berziarah? Oleh-olehkan dia doa dan ceritakan pengalamanmu, dia bilang kalau dia rindu kamu”. 

Sudah kusampaikan titipan salam rindu darinya 

Sudah, sudah usai 

Semoga tenang, Maryam, istriku. 

Sedari Mulyono, 
Kakek tua disudut kota.
____
Cerpen ini dibukukan dalam kumpulan cerpen berjudul "Koma (Sebuah upaya Melupakan Sembari Meninggalkan Jejak)" yang akan segera terbit

1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    www.arenakartu.cc
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.