Pasca Berurusan Dengan Polisi Komunitas Vespa Literasi Tidak Lepas Dari Punggawanya

Lapak Baca Buku Vespa Literasi di Institut Agama Islam Zainul Hasan Genggong


Pada tahun 2017 lalu, tepatnya tanggal 17 desember segelintir mahasiswa khususnya Mahasiswa Universitas Nurul Jadid berkumpul dan memiliki inisiatif baru melihat kampus yang menjadi tempat mahasiswa berpijak hanya menjadi tempat tongkrongan saja dan melihat kurangnya minat baca mahasiswa pada saat itu.

Sekelompok ini akhirnya berinisiatif membangun sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Vespa Literasi, dimana komunitas ini menyediakan beberapa buku bacaan untuk mengisi lingkungan membaca dikampus maupun masyarakat. 

Bermula dari situlah komunitas ini terus melapakkan buku-bukunya untuk dibaca dan dipinjami oleh orang-orang yang berminat membacanya. Biasanya, komunitas vespaliterasi ini membuka lapak baca dikampus Universitas Nurul Jadid dan kampus Institut Zainul Hasan Genggong juga di Alun-alun Kota Kraksaan setiap minggunya. 

Namun pada tanggal 27 juli 2019 lalu, Komunitas Vespa Literasi harus berurusan dengan polisi gara-gara melapakkan buku-buku berbau PKI yang disebut buku-buku haluan kiri. 
Buku-buku ini diduga sudah terlarang ada di Indonesia lantaran termasuk buku partai komunis. 

Kejadian penangkapan 2 orang punggawa bernama Muntasir Billah alias Momon berusia 24 tahun warga Desa Jati Urip, Kecamatan Krejengan dan Saiful Anwar dengan usia 25 tahun warga Desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Oleh anggota polsek kraksaan terjadi pada saat mereka sedang membuka lapak baca gratis di Alun-alun Kota Kraksaan. 

Kasus tersebut sempat ramai di berbagai media sosial dan mengundang respon dari kalangan tokoh-tokoh nasional serta kaum intelektual. Seperti halnya Najwa Shihab pada akun instagramnya tertulis tanggal 30 juli 2019 sempat melirik kejadian ini dan memberi pernyataan bahwa sangat menyayangkan pihak aparat kepolisian padahal tindakan pelarangan buku Tidak sejalan dengan demokrasi yang menghargai perbedaan, kebebasan berpendapat dan menjauhkan kita dari amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lapak Baca Buku Vespa Literasi di Institut Agama Islam Zainul Hasan Genggong
Suasana Lapak baca buku gratis Vespa Literasi
Kemudian buku-buku yang disita oleh polisi resmi dikembalikan pada Komunitas Vespa Literasi pada tanggal 31 juli 2019, namun buku-buku tersebut mereka berikan kepada MUI Kabupaten Probolinggo. Empat buku yang diduga berhaluan kiri itu, diterima Sekretaris Umum MUI KH Sihabuddin.

Hingga saat ini ditahun 2020 Komunitas Vespa Literasi terus melapakkan buku-buku sekitar 500 buku gratis dikampus Universitas Nurul Jadid dan kampus Institut Zainul Hasan Genggong, mereka tidak lagi membuka lapak di Alun-alun Kota Kraksaan karna pada saat ini lokasi sedang dalam masa perbaikan hingga mengharuskan mereka mencari tempat lain untuk melapakkan buku-bukunya diluar.

Seusai kejadian juli 2019 lalu yang mengharuskan komunitas ini berurusan dengan polisi, tidak ada yang berubah dari vespa literasi. 

"Karna vespa literasi bukan basis kaderisasi jadi tidak harus ada kader, siapapun bisa masuk untuk menjadi anggota vespa literasi, dan untuk saat ini punggawanya tetap seperti sebelum ada kejadian penyitaan buku-buku" jelas Zainul Hasan Rizqiyansyah (pendiri Komunitas Vespa Literasi)
__
Berita dan Dokumentasi oleh : Diana

No comments

Powered by Blogger.