Naik Motor Apa Naik Kura-kura?

Suami Limited Edition

Malam itu Hani berkunjung ke rumah mertuanya. Dalam perjalanan, hatinya ngedumel. 'Ini naik motor apa naik kura-kura, sih? Dari tadi cara bawa motornya macam banci kelaparan', bibirnya maju beberapa centi tapi tentu saja tak nampak oleh suaminya. 

Angin malam menyibak jilbab yang ia kenakan. Ekor jilbabnya melambai-lambai diterpa angin. Sang suami menunggangi motor makin pelan begitu memasuki area persawahan. Aroma khas padi seketika terhidu. Sejenak Hani mendongak, nampak bulan separuh seolah ikut mengoloknya.

Laki-laki bernama Hardi yang telah memperistri Hani dua tahun silam menangkap gelagat aneh dari istrinya. Biasanya saat dibonceng, istrinya akan berkicau bak burung, ada-ada aja yang diobrolin, kok tumben malam ini mode silent?

Otak Hardi cekatan untuk flash back kejadian seharian, mencoba menelusuri musabab bungkamnya si istri tapi sepertinya tak ada yang salah. Tadi sorepun saat mampir di rumah temannya Rika tak ada yang ganjil. Hardi sabar menunggui istrinya bercengkrama dengan sahabatnya.

Hardi bahkan begitu bahagia melihat barisan gigi istrinya tertawa lepas bersama sahabatnya. Iapun nyaris seperti tukang usir nyamuk yang menjadikan ponselnya sebagai pelarian dari rasa kikuk. Ia tak tau harus nimbrung apaan karena istrinya selalu mendominasi pembicaraan dengan gaya khas bercandanya yang membuat Rika ketularan terpingkal-pingkal.

Ahhh, demi melihat wanitanya sebahagia itu Hardi sudah sangat bersyukur dan berterima kasih pada Allah.

++
Jarak ke rumah mertua tersisa sekitar 5 km. Hardi mencoba memberanikan bertanya pada istrinya. 

"Sayang, kamu baik-baik saja? Dari tadi, kok diam?"

"Gpp," jawab Hani pendek. Tapi dari penekanan suaranya jelas tersirat ada kejengkelan yang tertahan.

"Kamu gak senang berkunjung ke rumah mama?" pancing Hardi hati-hati.

Hani membisu.

"Kalau ada sesuatu yang mengganjal diomongin, jangan dipendam sayang, ntar gak enak sendiri, lho. Kan, gak biasanya kalau kamu dibonceng mode silent begini, biasanya nyerocos sepanjang jalan, hehehe," Hardi mencoba mencairkan suasana, sesekali ia menoleh ke samping supaya istrinya mendengar dengan jelas apa yang ia utarakan.

"Bukannya saya gak mau atau gak senang berkunjung ke rumah mama, tapi ini kita lagi naik motor apa naik kura-kura, sih?"

"Maksudnya? Yaaahh, kita naik motorlah, kamu gak suka yah dengan motornya? Nanti, deh kalau kita berkecukupan baru ganti kendaraan, sekalian beli mobil, gitu".

"Bukan, bukan itu maksud saya, Mas. Ini kalau lajunya hanya 10 km/jam alamat bakal subuh kita nyampenya, Mas, gimana, sih?!".

"Owalah dalaaaahh, jadi hanya itu tho masalahnya, Neng? Duuuhhh perempuan benar-benar unik nan ajaib, napa gak ngomong dari tadi?"

"Gak, enak. Ntar kamu tersinggung," ketus Hani.

"Btw kamu tau gak kenapa laju motornya Mas pelanin?"

"Karena kamu pengen ala-ala ABG yang sok pacaran di atas motor, kayak si Dilan dan susu Milo, itu" cebik Hani.

"Milea," ralat Hardi.

"Ya itulah pokoknya, terserah!"

"Jawaban kamu salah sayang, Masmu ini lebih wokeh dari Dilan, cuma kamu belon nyadar aja, hehehe" Hardi tertawa.

Pekat malam makin menyelimuti mereka berdua. Satu persatu rumah penduduk mulai nampak. 

"Eh, lalu tujuan kamu ngendarain motor kayak kura-kura, apa coba?" tantang Hani pada suaminya.

"Jadi kamu pengen nyobain sensasi lari kijang?" balas Hardi sambil senyam senyum.

Berselang beberapa detik, Hardi memacu motornya dengan laju 50, 60, 80 sampai 100 km/jam. Sontak Hani mengeratkan pelukannya ketakutan.

"Maaaaaaasss, gak sampe segininya juga kaliiiii..." teriaknya.

"Gimanaaaaaaa???" Balas Hadi ikut-ikutan teriak.

"Maaaaaasss".

Laju motorpun kembali pelan seperti semula.

"Bagaimana perasaan kamu?"

"Kedinginan, Mas" jawab Hani setengah menggigil.

"Nah, itulah tujuan saya dari tadi laju motornya pelan aja, supaya kamu tidak kedinginan, sayang. Tadi Mas udah ngingetin sebelum berangkat, sweaternya dipake tapi kamu bilang gak usah."

Seketika Hani merasa berdosa ngedumel sendiri di atas boncengan, apalagi dalam hatinya sampai terlontar pikiran kalau suaminya macam banci kelaparan yang bawa motor. Iapun tak mengindahkan pesan suaminya untuk memakai sweater karena awalnya gak niat singgah di rumah sahabatnya. Hanya saja kebetulan lewat dan tiba-tiba memutuskan untuk mampir. Sama sekali gak kepikiran jika ia bakal kemalaman saat berkunjung ke rumah mertua.

Rasa berdosa dan bersalah perlahan merambati hatinya. Ya Allah, betapa tulus hati suamiku dalam menjagaku, bahkan hal receh sekalipun yang sama sekali tidak kupikirkan tak luput dari pengamatannya, batin Hani.

"Maafin Hani, ya Mas udah berpikiran yang tidak-tidak".

"Gpp, sayang. Nih, bentar lagi kita sampai di rumah mama. Biar lambat asal selamat dan tentunya biar naik kura-kura asal kamu tidak kedinginan".

Hani hanya menumbuk pelan punggung suaminya, bukan tumbukan mesra apalagi tumbukan sayang, ia masih belajar menumbuhkan bibit cinta pada lelaki yang telah dimandat menjadi imamnya.

*

Entah kenapa suami Hani tak pernah marah padanya, separah apa sayang Hardi pada Hani? Padahal kadang kelakuan Hani absurd pake banget. 

.... bersambung....

**Nurbaya Tanpa Siti
____
Disclaimer : Tulisan ini diambil dari seri Suami Limited Edition yang diambil dari Grup whatsapp "Dosen Menulis"
____

2 comments:

  1. duh mesra banget naik motornya. Seru seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mesra sekali ya kak, benar-benar suami limited edition nih

      Delete

Powered by Blogger.