Tukang Serangga : Sebuah Cerpen Karya Rahman Kamal

Cerpen Tukang Serangga


Saat aku kecil, aku sering bingung saat ditanya tentang cita-citaku. Mungkin anak kecil kebanyakan akan menjawab antusias dengan jawaban seperti dokter, guru, pilot, serta profesi lain yang tak kalah keren.

Tapi semua itu bukan impianku. Sejak kecil aku ingin menjadi tukang serangga. Aneh memang, tapi itu benar-benar keinginanku. Semua bermula dari bapakku

Bapakku memang hanya tukang serangga. Tapi dia tidak pernah sedih. Ia selalu bahagia. Ia selalu bersyukur dengan semua hal yang ia peroleh. Meski tidak setiap hari panggilan tugas untuk tukang serangga datang. Bapak Tidka pernah tampak gusar. Tidak seperti pekerja menengah kebawah lain yang galau tidak tertolong jika bisnis mereka sedang surut. Bapak tidak pernah mengalaminya. Baik saat banyak panggilan membersihkan serangga, maupun sebaliknya

Selain itu bapak juga punya banyak waktu untuk keluarga. Hal itulah yang menjadi alasan besar kenapa kuingin menjadi tukang serangga. Jika aku menjadi dokter kuakan terikat dengan jam kerja tidak fleksibel yang diberi label shift. Jika kumrenjadi guru kukan terkekang oleh monotonnya 20 jam pelajaran syarat minimal sertifikasi guru. Ku tak ingin semua itu, kuhanya ingin berkumpul dengan keluarga. Karena itu kuingin jadi tukang serangga

Sebenarnya bapakku bisa punya pekerjaan yang lebih baik. Beliau adalah lulusan Prodi Biologi salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung. Kenalannya pun banyak. Dari mulai ibu-ibu komplek hingga para pejabat Kemayoran hampir semuanya tahu dengan bapak

Setiap kali bapak ditelpon untuk membasmi serangga di kantor pemerintahan bapak pasti mendapat kenalan baru. Dengan gaya supel serta kecerdasannya. Pelanggan yang menggunakan servis bapak tak pernah berkurang tapi bertambah. Walau terkadang bapak menolak beberapa panggilan karena ingin berkumpul dengan keluarga. Satu hal yang aku suka dari bapak. Sesibuk apapun, beliau selalu punya waktu untuk keluarga

Sebuah kebahagiaan yang mungkin tidak dimiliki oleh anak-anak lain seumurannya. Hal itulah yang membuatku bercita-cita menjadi tukang serangga seperti bapak. Hidup berkecukupan dan penuh kebahagiaan

Kata bapak, orang sukses adalah orang yang merasa cukup. Yang tidak kekurangan, tapi selalu bersyukur dengan apa yang ada. Hal yang bapak selalu tanamkan padaku sedari kecil. Bersyukur

"Nak, bersyukurlah dengan segala sesuatu. Bergembiralah dengan apa yang kamu punya. Karena orang lain belum tentu punya apa yang kau miliki sekarang" ucap bapak suatu hari setelah melihatku menangis dengan mainan rusak yang tergenggam di tangan. Setelah itu beliau pun meminta mainan itu lalu memperbaikinya

Waktu kecil hal yang paling aku takuti adalah serangga. Pertama karena memang mereka menjijikkan. Itu pandangan awalku. Pasti banyak orang yang berteriak keras atau ketakutan ketika melihat kecoak. Atau jadi tidak enak makan saat melihat serangga di sekitar makanannya.ya. aku kecil juga merasakan hal yang sama. Kejijikan akan serangga. Alasan kedua kenapa aku benci serangga adalah olok-olok teman. Meski bapak tidak bisa dibilang kaya. Aku bisa sekolah di sekolah favorit. Konon, bapak pun tak perlu membayar biaya sekolahku karena seorang pelanggan bapak dengan senang hati membayar biaya sekolahku. Katanya, bapak adalah orang yang menyenangkan dan baik. Dan biaya sekolahku tidak ada apa apanya dibanding dengan sikap bapak padanya. 

Tapi itu adalah sebuah konsekuensi bersekolah di sekolah favorit. Anak-anak lain mengolokku dengan panggilan serangga. Bocah serangga beruntung yang bisa sekolah di sekolah favorit karena serangga. Sakit, sungguh sesak dikatai serangga. Hewan yang diriku juga jijik terhadapnya.

Tapi bapak menguatkan ku. Memberi semangat, memberi motivasi. Aku masih muda, penuh gelora dan mudah dibakar amarah. Tapi dengan lemah lembut bapak menuntunku, mencerahkanku. Membuatku menjadi pribadi yang lebih baik yang banyak bersyukur dan menerima kenyataan.

Aku yang benci serangga pun perlahan mulai terbiasa dengan kata serangga. Bully, ya mereka tetap membulat Kim tapi cara terbaik membalas bully an tersebut bukanlah melawan mereka dengan Bullyan serupa, tapi tunjukkan bahwa bully an tersebut tidak berdampak apa-apa. Fokuslah untuk mengembangkan pribadi. Sebuah nilai moral yang bapakku selalu suarakan untukku

Apakah kamu pernah bercita-cita jadi tukang serangga? Iya kamu? Pernah punya cita-cita tersebut? Sejujurnya aku yang dulu tak pernah punya cita-cita menjadi tukang serangga. Tapi suatu malam bapak bercerita banyak hal.

"Mereka masih memanggilmu serangga?" Tanya bapak memulai percakapan

"Iya pak! Tapi tidak seperti dulu, aku telah buktikan bahwa serangga itu bukanlah hal yang Buruk!"

"Syukurlah, nak! Bapak ingin bercerita sesuatu!" 

"Apa itu bapak?" Aku spontan antusias mendengar bapak ingin bercerita. Ya, bapak adalah pencerita terbaik di dunia

"Dengarkan baik-baik!" 

**

"Kamu tahu dari mana serangga berasal? Mereka bukan berasal dari tempat jorok seperti selokan. Memang ada serangga yang berasal dari sana. Tapi asal serangga yang sebenarnya adalah diri kita sendiri" 

"Kamu tahu kenapa di gedung dewan, di ruang guru, ruang rektor, dari kampus-kampus banyak serangga? Karena serangga muncul dari diri kita sendiri. Bapak memang seorang tukang serangga, tapi bukan pembasmi mereka. Hanya memindahkan mereka ke tempat yang lebih pantas" 

"Itulah alasan kenapa bapak punya banyak kenalan. Karrna bapak tidak hanya memindahkan serangga itu tapi juga bercakap-cakap serta berkenalan dengan mereka. Bercerita banyak, menemukan sumber dari mana serangga itu datang"

"Ya, diri kitalah yang mendatangkan serangga itu. Dari keegoisan, dari sifat tamak dan serakah kita. Semua serangga berasal dari empat jorok terdalam di telinga hati kita. Tempat paling gelap dalam hati yang penuh dengan sifat buruk tersebut" 

"Itu bukan kemauan serangga untuk datang ke tempat seperti gedung kampus, gedung dewan atau kantor-kantor pemerintahan. Tapi aura egois, tamak, dan keserakahan yang memancing serangga Ke tempat itu"

"Itulah alasan kenapa kita harus bersyukur. Harus berterima kasih kepada sang pencipta atas apa yang telah diberikanNya. Lihatlah, rumah kita tak pernah disinggahi serangga. Karena kita bahagia, kita merasa cukup dan tak pernah tamak dan serakah. Dulu tempat ini penuh serangga nak! Penuh dengan ketamakan dan keserakahan sebelum kamu hadir. Memberi warna dalam keluarga kita. Sebuah anugrah yang Tuhan titipkan pada bapak dan ibumu" 

"Bersyukurlah, terimalah apa yang kamu miliki hari ini. Karena kebahagiaan yang hakiki adalah merasa cukup. Tidak merasa kurang terhadap apa yang kita miliki" 

"Menjadi tukang serangga bukan semata memindahkan serangga tapi juga menghilangkan keegoisan, ketamakan serta keserakahan di dalam diri manusia. Jika kamu bahagia, jangan hanya disimpan untuk dirimu sendiri, tapi bagilah kebahagiaan itu kepada orang lain nak!"

**

Itulah alasan kenapa ku ingin menjadi tukang serangga. Menjadi bahagia serta membuat orang lain turut bahagia.
____
Rahman Kamal : Seorang penulis yang kesehariannya bergumul di gubuk maya www.rahmankamal.com seorang kontributor rutin untuk gubuk inspirasi dan manusia sekaligus mahasiswa yang percaya bahwa ngebucin adalah tambang inspirasi.  
____
Sumber gambar :
https://all-free-download.com

2 comments:

  1. Sekarang anak kecil kalo dianya cita2 bilangnya mau jadi yutubers

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener nih, banyak yang pingin jadi youtuber sekarang lo

      Delete

Powered by Blogger.