Secangkir Kopi Kepunyaan Jomlo



"Ini dik,  kopi lanangnya! " ucap mbak penjaga warung yang kusinggahi pagi itu. Ya!  Setiap pagi kumemiliki sebua tugas mulia. Mencicipi kopi dari 1 warung ke warung Lainnya. Hal yang menjadi patokan penilaian ku bukan semata citarasa kopi yang disajikan,  tapi juga harga dan keelokan penjaga warungnya. Oh dik,  andai kau tau!  Kemolekan buk ibuk atau anak penjaga warung itu adalah trik pemasaran masa kini! 

Ya dik!  Sekarang taktik marketing itu amat beragam.  Aku yakin kotak masukmu penuh dengan tawaran pinjaman online,  dan aku tidsk yakin kalau sms yang aku kirimkan pernah kau baca,  atau bahkan tidak pernah sampai ke kotak masukmu. 

Ah!  Lupakan saja dik! Mungkin kamu tak pernah menyimpan nomerku.  Atau mungkin kau tak sudi?  Ah sudah,  aku tak mau hanya aku yang berharap. 

Slurrrp

Kusesap perlahan kopi yang sudah kutuangkan ke atas lepèn agar tidak panas. Dik,  kopi itu memang pahit!  Dan ia nikmat disesap di pagi atau malam hari.  Kenapa?  Karena sebenarnya pahitnya hidup itu tidak sepahit secangkir kopi.  palagi kau meminumnya langsung di dhèg dè'aku, aku yakin rasanya tidak akan enak. Itu juga alasan sindiran orang dik!  "Mun pelkak jhèk nginum kopi" 

Slurrrrrp

Kusesap lagi kopi  itu,  lebih dalam kunikmati setiap cita rasa pahit yang mulai memenuhi indra pengecap. Kunikmati setiap kehatangan seduhan kopi yang mulai dingin itu. Memang,  kopi adalah minuman terbaik di pagi hari! Selain membuat kita sadar seutuhnya karena kafein,  kopi juga memberiku pukulan didalam hati. Pukulan atas kebodohanku semalam menunggu balasan pesan yang kukirim padamu dik! 

Pahit!  Ya seperti kopi. 

Lantas jika kamu memintaku meracik secangkir kopi untuk mu suatu hari (amin) tenang! Aku tidak akan mencampurnya dengan sianida,  aku tidak akan menghancurkan jalan yang kubuat sekian lama hanya dalam seteguk kopi.  Tapi memang,  kopi yang kubuat itu pahit. Karena aku tidak pernah memberi gula dalam cangkir yang Kupakai. Bukan karena manisnya ada di kamu,  maaf aku tidak se alay itu. 

Karena kopi pahit itu bisa menyadarkanku. Menyadarkan bahwa aku adalah golongan manusia yang tau kalau dirinya tidak tau. Ya,  aku tau kamu tidak punya rasa kepadaku,  dan aku tidak tau bagaimana caranya menghilangkan rasa yang tidak pernah adil ini. Dik!  Dunia memang tidak adil! Terutama untuk jomlo sejenisku

Kuhabiskan sisa kopi pagi itu.  Nikmat, pahit, mbaknya juga cantik. Ah dasar mata yang tiba-tiba fokus saat melihat mahluk yang bening sedikit. Mungkin ini efek samping karena terlalu sering mengabadikan air mata. Ya! Lelaki  memang suka berjuanh di awal saja! Lalu menghilang ketika lagi sayang-sayangnya! Ya kan dik! Akupun tidak bisa menjanjikan apa apa jika setelah perjuanganku in bertemu dengan sebuah pengakuan,  apakah itu akan menjadi akhir?  Semoga tidak! 

Kurogoh saku kantong celana,  kuambil selembar uang 5 ribu. "Ini mbak uang kopinya" aku pun segera pamit dengan tergesa-gesa. Dalam perjalanan hatiku berkata,  semoga saja mbak nya nerima uang 5 ribu dari total harga kopi 8 ribu tersebut
___
Tentang penulis : Rahman Kamal, seorang mahasiswa yang kesehariannya diabadikan untuk mengabadikan air mata. Bisa ditemui di gubuk mayanya www.rahmankamal.com

4 comments:

  1. Pernah di satu kafe mesan kopi disuguhi seperti gambar di atas. Jadi segen mau minum, takut topingnya rusak hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, mimin juga pernah mas. rada eman gitu ya. Tapi penting difoto sek, habis itu langsung diseruput. Dan, ya kopi yang bisa dilukis begitu biasanya bertekstur halus dan lembut serta berbusa. Nikmat dah pokoknya

      Delete

Powered by Blogger.