Dosen Killer vs Santuy, Yang Mana Yang Lebih Asik?

Dosen Kiler vs santuy


Sebagai seorang mahasiswa, tentunya familiar dengan istilah dosen killer. Entah itu karena dosen tersebut pelit terhadap nilai, suka memberi tugas seabrek, atau memang karena pembawaan dan perawakannya yang nyeremin.

Sebagai seorang mahasiswa, saya pribadi merasa cukup familiar dan bahkan pernah merasakan eksistensi dari dosen killer. Ya lumayan butuh perjuangan juga untuk melewati panjangnya 1 semster bersama dengan dosen killer yang amat disiplin dan tidak pernah absen hadir tiap minggunya.

Terkadang saya memikirkan sebuah hal, perlu gak sih seorang dosen bersika killer? Di satu sisi memang ini adalah bentuk sebuah kedisiplinan. Tapi seiring waktu saya mulai memikirkan beberapa hal, seiring pula dengan seringnya saya ngopi dan bercengkerama sekaligus bertukar pikiran.

Nah, dalam perjalan hidup di dunia perkampusan ini, selain berkenalan dengan adik tingkat yang punya tampilan di atas rata-rata (maklu jomlo :D) saya juga mendapat dosen yang selow bin santuy, bahkan kadang juga terlanjur selow.

Nah, dari kedua jenis dosen yang teramat bertentangan ini, saya mendapat sebuah pencerahan dan sedikit bahan pemikiran yang cukup menggelitik. Perlu nngak sih dosen itu bersifat killer? Pertimbangannya begini

Apakah dosen killer bagus untuk mahasiswa?

Perlu digarisbawahi bahwa mahasiswa kebanyakan ya belajarnya otodidak dan berawal dari diri sendiri. Sampai muncul sebuah stgma kalau kampus sebenarnya bagi seorang mahasiswa itu adalah warung kopi, karena kongkow di warung kopi menghasilkan lebih banyak ide dan inspirasi. Ya! Sebelum geng game moba online datang menyerang wkwkwk

Pertama kita bicara tentang dosen killer, oke! Mahasiswa bakal takut dan berusaha untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, tapi terkdang juga muncul stigma negatif terhadap dosen jenis satu ini. Ya! Dosen ini itu lah, itu lah, dan lain-lain. 

Dalam kasus dosen yang santuy dan terlihat kalem, saya melihat bahwa sebenarnya mereka bukan santuy dan malah cuek dengan mahasiswanya. Dari banyak dosen santuy yang saya lihat, mereka bahkan lebih care terhadap mahasiswanya dan lebih memberikan ruang terhadap mahasiswa untuk berpikir dan berkembang.

Kok bisa?

Jadi pemahamannya begini, jika dosen santuy memberi tugas, hanya mahasiswa yang benar-benar ingin mengerjakan tugaslah yang mengerjakan. Sedangkan mahasiswa biasa aja pasti bakal nyantai dan ya masuk dala ritme santuy dosen tersebut.

Sebaliknya, jika dalam skema dosen killer, mahasiswa memang mengerjakan secara keseluruhan tapi tidak ada ketulusan karena memang ingin megerjakan, tapi mengerjakan karena sebuah tuntutan.

Kelebihan Dosen Santuy Ketimbang Dosen Killer

Enaknya dosen santuy itu, kebanyakan dari mereka adalah tipe yang tidak canggung untuk membaur dengan mahasiswa. Dari sikap inilah muncul rasa hormat, bukan segan. Selain itu, sifat santuy nya itu memancing keberanian dari mahasiswa untuk bertanya, nah dari hal inilah sebuah diskusi bisa berjalan lebih dinamis dikelas yang diisi oleh dosen santuy.

Ya! Seperti yang sudah dikatakan lebih awal, warung kopi itu lebih banyak memberikan aspirasi dan ide, serta lebih melancarkan saraf pemikiran dalam kepala daripada ruang kelas.

Tapi,

Perlu diingat, kadang ada juga dosen yang kelewat santuy. Jenis yang ini juga gak baik. Ada juga dosen killer, tapi sebenarnya baik. Nah, inget juga kalau segala sesuatu itu relatif. Oleh karena itu jangan langsung menilai orang dari covernya saja.

Kalau kamu? Lebih suka mana? Dosen santuy atau dosen killer? Yuk kita diskusi

_____
Sumber gambar : Unsplash.com

4 comments:

  1. Kayaknya sih stengah dr ke duanya... Santuy bgt juga jgn.. Ntar mahasiswanya mlh ikutan santuy.. Perlu juga ada ketegasan tapi bukan berarti galak.. Yg ada malahan takut bukannya segen... Alias belajar jg krn terpaksa dari pd nilai gw jeblok...

    ReplyDelete
  2. Kalo saya melihat sebaliknya yah. Dosen killer karena ingin mahasiswanya bisa terpacu untuk mengerjakan tugas

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener juga mas, taoi memang sedikit susah bawaannya sekarang, karena ya dinamia mahasiswa sudah banyak berubah dan mindset nya jga beragam. INi juga karena penulisnya pro dengan dosen santuy, taoi oada dasarnya memang kedua dosen tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing

      Delete

Powered by Blogger.