Secarik Kertas Masa Depan : Sebuah Cerita Pendek

Secarik Kertas Masa Depan


Alnira, gadis berusia dua belas tahun yang sedang berjuang untuk Ujian Nasional yang diadakan satu bulan lagi. Kini, gadis itu tengah membanting tulang menyiapkan uang pendaftaran yang sudah pasti tidak bisa disanggupi oleh bapaknya yang sekarang sedang terbaring sakit dirumah, ibunya pun hanya berkerja sebagai buruh kasar yang gajinya hanya cukup untuk membeli beras dan makanan seadanya. Alnira mengusap keringat yang menetes pada dahinya, terik matahari yang begitu menyorot tak membuat Alnira mengeluh. Alnira menapaki jalan setapak yang sedikit menanjak, dilewatinya jembatan kecil tanpa pembatas yang sisi kanan dan kirinya terdapat aliran air kecil semacam kali01 yang hanya ada air waktu hujan saja. Alnira duduk menghitung rambak1 yang dijualnya sejak jam dua belas siang sepulang sekolah tadi, Alnira menghela nafas berulang kali. Dilihatnya rambak miliknya itu masih banyak padahal sudah dua jam-an ia berjalan berkeliling di kampung. Alnira menerawang lurus jauh didepan sana yang terlihat sawah-sawah perdesaan demi sedikit mulai mengurang, miris sekali. batin Alnira.Tubuh kecilnya itu mulai terbiasa, pegal sangat terasa pada tangannya karena sibuk memegangi tampah yang berisi rambak - rambak itu. Alnira melanjutkan langkahnya menjajakan dagangannya lagi.

    Alnira kini sedang Ujian Nasional dengan khitmat ditemani dua pengawas dan semua temannya yang memiliki absen 1-20. Alnira menatap soal demi soal dan memahami setiap persoalan yang di soal matematika itu, otaknya pening seolah tak muat untuk berfikir lagi. Alnira menyangga kepalanya, semalam ia hanya belajar sekilas saja sepulang berjualan jadi ia tidak terlalu memahami materi. Karena ia terlalu gigih berkerja ia sampai melupakan prestasi yang tentunya sangat penting untuk membantunya mencapai cita-cita. Alnira menghela nafas ketika suara bel memekakkan telinga itu berbunyi seolah memberitahukan bahwa waktu ujian telah usai. Semua temannya mengendong tas bersiap untuk pulang, Alnira menatap miris apa yang sedang dibawanya sekarang, kantung plastik berwarna putih yang memuat buku - bukunya. Alnira menahan hatinya untuk tidak mengikuti nafsu, ia terus melanjutkan langkahnya agar ia bisa menjajakan dagangannya. 

   Hari pengumuman tiba, wajah Alnira dirundung kegelisahan ditambah lagi angin sepoi - sepoi yang menghasutnya untuk semakin gelisah. Saripah—ibu Alnira masuk kedalam kelas untuk mengambil hasil dari Alnira. Tak berselang lama pun Ibunya keluar. "Ndok, kertasnya belum dibagiin, kamu belum bayar uang LKS sama seragam. " Alnira menghela nafas,  "Tapi bu guru ngasih tau nilai kamu, ada dikertas ini. " lanjutnya sembari menyerahkan kertas HVS yang berada digengaman tangannya. 

   "Kenapa ndok ? " tanyanya. Alnira menggeleng, ia tak berani memberitahukan ibunya kalau dia gagal, dia sudah gagal. 
   "Tidak apa buk, ayo kita pulang bu! " ujar Alnira mengalihkan pembicaraan."

   Diperjalan Alnira masih saja terisak, ia masih menyesali perbuatannya yang mengecewakan Ibu dan bapak. Hingga sampai pada gang berkarat, didepannya terdapat rumah tua yang sangat sederhana disitulah Alnira tinggal. Alnira menghampiri Bapak yang tengah terbaring, ia menyalami Bapaknya sebelum ia masuk kedalam kamar. "Ira, jangan sampai putus sekolah ya, bapak pengen liat secarik kertas masa depan Alnira. Apalagi kalau Ira bisa liatin ke Bapak gelar dokter yang Ira sandang nantinya, Bapak nggak sabar nunggu itu, pengen liat anak Bapak satu-satunya ini mengobati Bapak. " Alnira mengangguk. "Iya amin Pak."

   Alnira merenung didalam kamar, menangispun tak mengubah hasilnya, Alnira sedih sekali, hanya nilai 21,95 yang ia dapatkan, Tanpa berkas kelulusan ilitu tak membuatnya bisa berada disekolahan favorite. Alnira menganti bajunya dan bersiap untuk kembali berjualan. "Ndok Ira! Sini! Ibu mau minta tolong nak!" panggil Saripah. Alnira segera beranjak dan menghampiri Ibunya. 

   "Kenapa Buk? " tanya Alnira. 
   "Belikan ibu beras sama bumbu dapur ya ndok. " ujarnya sembari menyodorkan uang sepuluh ribuan yang usang, Alnira memakai sendal jepitnya dan menuju ke warung yang berada tak jauh dari rumahnya. Semua bahan yang Ibu catatkan tadi sudah terbeli semuanya, Alnira kembali pulang dan menaruh bumbu - bumbu itu lada tempatnya, Alnira melihat bungkusan yang mencolok dibanding yang lain. Alnira membukanya, ia tersenyum cerah, mungkinkah ini bantuan Tuhan? .

   Dan hari ini tiba, dimana ia sangat percaya diri dengan baju yang dipakainya sekarang, baju olahraga yang warna orange nya sudah memudar karena termakan waktu. Alnira mengambil start jongkok dibelakang garis start, matanya fokus kedepan menatap lintasan lari yang akan dilaluinya. Saat peluit memanggil semangatnya, Alnira langsung berlari dengan perlahan lalu disusul dengan semangat mengembara di akhir lintasan. Alnira berhasil memenangkan lomba lari antar kampung ini. Berkat mengikuti lomba ini Alnira mendapatkan uang tiga juta sebagai hadia. Alnira tersenyum bahagia, mengengam erat uang yang didapatkannya, Alnira berlari kerumahnya seolah ia sedang berada dilintasan lari, Alnira langsung memeluk bapaknya, namun tak ada respon, Alnira baru menyadari kalau tubuh Bapaknya dingin, Alnira memasak air hangat dan menaruh uangnya dibawah bantal dekat Bapak tidur. Alnira meniup sempong agar api cepat menyulut, akhirnya usaha Alnira tak sia-sia, api menyala cukup besar dan air untuk Bapak matang dengan cepat. 

   "Assalamualaikum Ira, " Salamnya. Alnira langsung menjawab dari dapur. 
   "ASTAGA! IRA CEPAT KESINI!! " teriak ibunya dengan nada yang panik. Alnira melupakan baskom itu dan memilih menghampiri ibunya yang berteriak. 
   "Ada apa Buk? " tanyanya. 
   "Lihat, Bapak sudah tiada nak! " ujarnya sembari meneteskan air mata, Alnira lemas seketika, padahal ia sudah berhasil mendapatkan uang seperti yang bapaknya minta. Ia pasti selalu ingat kata Bapak ::"Ira harus bisa sekolah, apapun caranya!". Alnira jadi teringat Bapaknya yang selalu semangat untuk berkerja keras untuknya, membiayai sekolahnya dan, selalu memberikan kata motivasi kepadanya. Alnira memeluk Ibunya erat, ia berusaha tegar supaya Bapak tidak bersedih. 

   Alnira berlari keluar rumah, tak lupa uang tiga juta digengaman tangannya. Alnira menghampiri ruang kepala sekolah sembari merapal doa semoga kepala sekolah belum pulang. Alnira bernafas lega ketika melihat kepala sekolah itu baru keluar dari ruangannya. "Pak!" teriak Alnira, pria paruh baya itu menghampiri Alnira. 

   "Kenapa nak? "

Alnira menyerahkan uang tiga juta itu kepada kepala sekolahnya. "Saya membayar semua kekurangan saya pak! " kepala sekolah itu mengangguk. Ia kembali masuk kedalam ruangannya. 

   "Ini semuanya, semua berkas yang berhak kamu dapatkan. " ujar Pak kepala sekolah sambil menyerahkan semua kertas yang afa didalam map itu. 

   "terimakasih pak! " Alnira membawa dengan bangga hasil ujiannya, ia berlari lagi menuju rumahnya. Dengan keringat yang membasahi seluruh dahinya, Alnira berhasil mencapai rumah sebelum Bapak dimakamkan, warga kampung mulai memadati rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa dan mengurusi jasad ayahnya. Alnira memeluk Bapaknya erat sebagai tanda perpisahan. Bapaknya terlihat damai dengan kain yang menutupi wajah sampai mata kakinya. "Pak, Alnira bawakan Secarik Kertas Masa Depan yang bapak suka bilang ke Alnira, kalau Alnira sukses nanti, Alnira pasti bawakan yang lebih membanggakan. Bapak suka kan Alnira jadi dokter?" semuanya yang menyaksikan itu terharu melihat anak itu membawakan surat keterangan lulus. 

Sepuluh Tahun kemudian, Alnira bertumbuh dewasa dengan wajah yang sangat cantik, Alnira berhasil menyandang gelar dokter spesialis. Dan hari ini adalah wisuda Alnira, Alnira dengan bangga naik pada mimbar. "Saya berpesan untuk kalian, atau semuanya, jangan pernah mengecewakan orangtua. Jika kalian kesulitan biaya seperti saya dulu, jangan lupakan usaha untuk belajar bukan cuma mencari uang saja. Saya menyesal waktu itu, saya tidak tahu bahwa itu adalah pesan terakhir Bapak saya. Bapak saya ingin melihat saya membawa kertas masa depan ini. Untuk Bapak yang berada di surga sana, Ira persembahkan semua ini untuk bapak! Secarik kertas masa depan Ira, Ira berhasil Pak! " Tepukan tangan mengema diruangan kedap suara itu, Alnira mengusap air matanya yang terus mengalir, dilihatnya Ibu yang sudah semakin tua duduk dikursi sana sambil menitihkan air mata. Alnira turun dan menghampiri Ibunya. "Ira berhasil Bu, Ira bisa liatin kertas ini ke Bapak!"

_________
Sumber gambar :
https://unsplash.com/photos/OQMZwNd3ThU

4 comments:

  1. Sedih yaaa... Intinya sih jgn pernah berputus asa, kita tidak pernah tahu rencana didepan seperti apa dan tetap semangat menggapai cita"...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuos,jangan pernah menyerah dan tetep junjung mimpi kita. Karena pasti ada jalan bagi mereka yang berusaha

      Delete

Powered by Blogger.