Cahaya Terakhir : Sebuah Cerita Pendek



Langit malam itu berhias gemerlap bintang berlayar mega, tak elok rupanya kenangan daripada rumbia malam terdahulu. Bulan yang merotasi revolusi berpandang saksi pada bumi, menatap manusia-manusia berhimpun pada tanah terapung, nan sebagian laku lajak tak memuka dosa. Namun kini,lewat tigaabad lalu, penguaran rasa penyesalan manusia yang terlena akan loba, menyisakan sebuah kebaburan mekanika pandang hidup insan, perlahan manusia menjadi makhluk hampa berwarna hitam. Burung-burung yang dahulu luwes mengucapkan kicaunya, meluruh hening dalam kehampaan dunia, tak lagi berwarna akan ragam tinjauan pedoman berkehidupan masyarakat. Ya, mereka –manusia kelabu yang masih sadar dan bertahan- kini berusaha mengembalikan cahaya budaya, yang telah ditelan oleh sebuah hitam mekanika gravitasi, Culture Black Hole(1).

Hening ucap mega malam, di balik cumbu jendela dengan angin seorang gadis –berparas cantik- sedang menatap pada kedalaman sebuah buku tua, yang berumur sekitar tiga abad dari penulisan. Buku leluhur yang ia pegang, tak lain selamat dari tragedi CBH Project(2)yang merenggut cahaya budaya dari rupa insan. Nama gadis tersebut ialah Haguh, berupa swanama warisan Ayahsebagai penyemangat, setelah Ayahlenyap di lahap CBH. Sehingga timbul hati Haguh tuk kembalikan cahaya budaya yang akan menjadikan dunia hidup. Petunjuk yang dapat mengembalikan cahaya budaya, tersemai dalam buku tua awanama. Haguh mengajak dua kawan senasib serasa, Haryn, Bakyr, dalam proyek Pengembalian Cahaya Budaya.

Bertahan dalam penelitian 10 tahun, mereka akhirnya dapat menciptakan sebuah CultureWhite Hole(3), yang akan membawa mereka –ke ranah suci- dalam misi takdir sebagian manusia, tuk mendapat kembali sang mata budaya, sebuah cahaya suci.

-oOo-

Malam dinginkan jiwa tuk terlelap berselimut langit malam, beralun nada angin yang menelisik sungai, hingga membawa mimpi dalam kuasa-Nya. Kesunyian waktu yang berlalu lesat, berusaha keras tuk melena kantuk berat di mata. Haguh dan sekawan sudah meninggalkan dunia bumi yang –mungkin- berkehidupan. Lamanya waktu –ilusi dimensi- membuat mereka tak bisa bertahan, lalu terlelap bagai orang mati lemas, dan membiarkan dimensiCulture White Hole melayarkan kapal waktu ke ranah suci –atau mungkin tidak.

Kemudian, guncangan mendebarkan seisi kapal yang karam, yang tak lagi berada di lubang dimensi. Sehingga membangunkan Haguh dan sekawan. Lalu dengan sempoyongan merekamelihat keluar, sebuah hamparan hijau meluas dalam sejauh memandang. “Apakah ini ranah suci yang disebutkan dalam buku tua?,” bathin Haguh kebingungan. Tiba-tiba, terndengar suara Haryn berteriak, dengan menunjuk ke arah keluar- lebih tepatnya sebuah puncak bukit bercahaya.

Udara semilir bertajuk damai menenangkan jiwa sepi di keheningan hamparan rumput sedari tadi. Kini Haguh dan kawan telah mencapai di terang puncak bukit. Namun, mereka mendapati sebuah batu –yang dapat bertuah-,sontak mengejutkan mereka tatkala batu itu bertuah.

“ Siapakah kalian ? Mau apa kesini?” tanya geram yang menguar dari batu bertuah.

“ kami berasal dari bumi, disini kami ingin...” jawab Haguh mencuat berani, namun bak singa yang akan diseruduk oleh seribu badak, batu bertuah melindap saja ucapan Haguh.

“Apa !? para makhluk sampah itu? Enyahlah kalian dari tempat ini! Tak sudi kiranya sampah di ranah suci.” Kini suara batu bertuah memberang bara.

Haguh yang hendak berucap lawan dan kawan, merundung ciut tatkala sebuah bola api besar muncul dari belakang batu bertuah. Tak pikir panjang, tak pikir lawan, tergapah morat marit tiga serangkai berlari, hingga Bakyr bak mobil tua yang sedang bocor bensin dipaksa berjalan, yang mesin nya hampir saja meledak kepanasan.

Ditengah upaya melarikan diri dari kejaran bola api, mereka dikagetkan dengan kenyataan bahwa bola api tersebut telah menghilang. Gerutu kesal di hati, dalam benak mereka bertiga. Tiba-tiba. Sebuah cahaya keluar dari tas yang ditenteng Haguh. Buku tua itu terbang, lalu melesat menuju batu bertuah. Sekejap mata, sebuah ledakan cahaya membuka sebuah portal.

“Wah, astaga, apa itu ?” Ucap Haguh dengan mata yang kebingungan di mana tempatnya, yang begitu saja menjalar pada benak dua kawan Haguh.

“Wahai kalian, tak usah diri menjadi takut. Kerana yang hak telah menjela pada kalian. Kini takdir dunia terpangku pada kalian.” Suara menguar dari portal tersebut.

“Takdir dunia ?” tanya Haryn bingung.

“ Ya. Kalian terpilih dari yang terpilih untuk mengambil nilai budaya daripada sebuah cahaya. Tugas diantara tugas yang mulia dari beribu cahaya. Namun, pada ini terdapat 4 nilai yang menyanggah padu kesatuan, cahaya suci.” Ucap buku tua –yang telah menjadi portal-, lalu sejenak hening.

“Engkau, Haguh, dipilih se-dua nilai cahaya daripada sebuah Nengah Nyappur(4) dengan Sakai Sambayan(5)”

Suara itu menyeru sebuah tugas masing-masing dari mereka. Lalu, dengan sekejap, portal itu menghisab mereka bertiga, dan kembali senyap, menuju tanggungan berat suci.

-o-

Kicauan burung pipit, melebur gemericik arus sungai, bermekar mentari pagi. Angin membangunkan gadis ditengah tidur dalam ghanjang(6), begitu menyenyakkan disebuah rumah berkaki kayu, kokoh berdiri di kedamaian pagi. Sadarnya orang pagi masih menyelimuti seisi rumah, namun gadis itu bangkit laksana mentari tak pandang cuaca. Kaki menapak merajut usaha menuju luar, segera saja gadis itu pergi dengan puccang(7), berlena dengan liur yang membekas di bibir. Gadis itu bernama Hana.

-o-

Matahari telah berdeyar selama enam jam sedari subuh. Gadis itu –Hana- tiba di rumah, sepulang menyadap dari sebuah kebun Arenga Pinnata(8) tua leluhur keluarga, merupakan seorang gadis yang tak tahu asal-usulnya, ditemukan pada sungai lalu terasuh oleh keluarga miskin pinggir kali, sungguh takdir bermegah indah. Hana tumbuh merupa gadis yang cantik, namun merajai jiwa lelaki. Hampir semua pekerjaan lelaki ia kerjakan semua, sampai para lelaki di aneknya segan pada diri Hana. Namun yang berbeda dari Hana, ia dibesarkan oleh keluarga berbudaya.

“ Hana! Nanti, tolong antarkanmekhaggoh(9)ini ke rumah Datuk Salim,” perintah Indui angkat Hana.

Indui merupakan panggilan seorang ibu di lampung, namun banyak pula versi panggilan ibu dalam daerah Lampung, ada Mak, Umi, dsb.

“Iyuh, Mak (10). Memang ada hajat apa Datuk Sahlim?”, tanya Hana sembari menyeka kucur keringat di dahi.

“BesokAhad(11), beliau akan mengadakan busunatan cucunya,”

Hana, dengan gapah meloncat ke kamar mandi, langsung berapih diri tapi seperlunya, dan meluncur berangkat. Kebiasaan Hana yang selalu sigap dan senang jikalau ada tetangga mengadakan sebuah hajatan. Bahkan, sampai perkawinan di kampung sebelah, didatanginya, bukan untuk semata makan kue-kue yang bergelimpangan di tempat masak, namun Hana teringat pada pesan Ayah, janganlah diri menjadi Khayoh Kup Belanga Kup, periuk satu belanga satu, seorang tak suka begaul menyerta menyendiri –tertutup-. Dan menjadi mata Sakai Sambayan, diri menyadar akan membantu bersama dalam masalah, lebih dimengerti ialah gotong royong.

Langkah demi langkah terhitung waktu, menyampaikan lambaian angin di selendang melingkari kepala Hana pada rumah Datuk Sahlim. Orang-orang bahkan teman Hana sedang sibuk lalu lalang memasak, menimbulkan romansa semerbak harum makanan menguar ke penjuru halaman. Tiba-tiba. Segera saja datang, Yuna, cucu Datuk Sahrum sepupu Datuk Sahlim, menepuk pundak Hana dari belakang.

“Hayo! Nikeu(12) ngapain disini ?”,

“Allaahu Akbar! Nikeu ini, mengagetkan nyak(13) saja.”, kaget Hana, yang hampir saja dirinya jatuh.

“Maaflah, nyak cuma bercanda saja. Janganlah merajuk”, jawab tak serius Yuna, yang masih tertawa, teringat mimik lucu Hana hampir jatuh.

“ Iyu... Oh, ya. Nikeu ngapain ke sini?”, tanya

Hana pun bercengkrama hangat cukup lama dengan Yuna. Hana memang seorang yang tak ambil hati, sudah biasa bagi ia mendengar apapun itu asalnya, sungguh kawan bukanlah makanan ucap. Pada dasar Hana, ia sudah melaksanakan amanat dari Ayahanda tercinta, Nengah Nyappur, “sejauh engkau merantau, sejauh pula engkau berteman, janganlah musuh dengan kau, berlapang dada, memberi semua.”. Pesan memberi suatu, Hana menjela menjadi pesan nan hormat Ayah ia.

Seusai cukup cakap dengan Yuna, bungkusan bantuan berupa makanan ringan segera Hana letakkan di meja, dan cekat terjun ia di keramaian orang yang –tak semuanya- memasak, kebanyakkan dari mereka cuma hilir mudik, cicip sana cicip sini. Lebih lagi yang memasak ibu-ibu lansia, memang disengaja atau tidak, terkadang mereka mencicipi berulang kali makanan hanya dengan satu sendok. Pernah Hana melihat di kampung sebelah, gigi palsu seorang nenek jatuh ke masakan, namun nenek tersebut membiarkannya, mungkin untuk menyedapkan makanan, ia terus menghidangkannya ke prasmanan. Semenjak itu, Hana, tak suka lagi makanan hajatan.

“ Wah, wah, wah. Masih gadis muda, sudah rajin betul nikeubetulungan(14) di rumah orang. Sampai mata berair seperti itu”,

Tiba-tiba,sebuah suara muncul menyapa puji diri Hana. Oh, ternyata itu adalah Paman Hana, Ghosim, sepupu ayahnya dan merupakan keponakan dari Datuk Sahlim, yang sudah ia anggap sebagai ayah kedua. Cepat saja, Hana memberi salam dengan tangan yang bau bawang, sedari merajang dua ember penuh. Senang hati Hana, karena jarang-jarang paman datang, walau rumah hanya di kampung sebelah. Hana bertanya pada Paman Ghosim mengapa ia datang kesini. Paman berkata, bahwa Ia datang untuk betulungdi busunatan(15) cucu paman diri, Datuk Sahlim.

Lelah Hana, rupanya, bukanlah lelah sang pemburu bintang.Angin sudah melambai goda -bak biduanita yang bersolek ganas di panggung orgen- cukup kencang untuk seorang balik berhangat di bilik. Bintang sudah bermunculan, dan gema azan Isya menguar segala penjuru, memaksa memulangkan Hana tuk kembali ke rumah. Namun, ketika baru menyusuri jalan setapak tak jauh dari rumah Datuk Sahlim, seseorang mengejar Hana. Setibanya, Orang itu, Risja, ibu dari tersunat, mengucap terima kasih dengan segenap memberi sebuah teda pada Hana, karena sudah cukup membantu diri mereka. Alhamdulillah, ada sepotong ayam di dalamnya, riang Hana mengintip sedikit bungkus teda.

Jalan setapak rumah Hana, harus melewati sebuah kebun sawit sepanjang seratus meter, tanpa penerangan, sendiri pun. Menyesal diri gerutu hati Hana, lupa ia tak membawa sepeda. Terpaksa, seraya merapal sepatah demi patah ayat suci, mohon lindungan pada Kuasa.

Dua puluh meter pertama, dirasa masih tenang. Namun, tatkala mencapai lima puluh meter, Hana melihat diantara batang sawit, terlihat sebuah cahaya melesat kesana kemari.

“Allaahuakbar!!!”, teriak latah Hana, macam orang dikejar setan kesurupan, ditambah lagi batu jalan yang licin, memaksa Hana berusaha lari dengan sendal jepit tak tahu rupa lagi.

Semakin Hana berlari cahaya itu semakin cepat bergerak dan terus mendekati dirinya. Akhirnya, dengan keringat yang mengucur deras, Hana keluar dari kebun sawit, bersamaan dengan itu, cahaya tersebut menghilang. Hana pun kembali ke rumah, bersama dengan bintang yang lenyap di pagi hari,dan mencoba tak ingat dengan kejadian tadi.

-o-

Sukma masih terlelap setengah sadar di keharuan pagi yang merelung cakrawala dengan semburat biru laut nan indah, menyentuh indrawi. Tak lagi menggema kicau burung, melebur gemericik sungai, menyingsing gemuru angin pada hamparan sawah, semua begitu, senyap. Hana, bangkit dari tidur, mencoba mengkumpulkan semua jiwa, tapi kejadian kemarin masih saja melelap rusuh di pikiran ia. Sampai-sampai, matahari harus berusaha mencari celah sempit, untuk melihat kondisi Hana, dari jendela.

“ Cahaya apa yang nyak lihat tadi malam itu yu()16?”, bathin gelisah Hana.

Cukup lama Hana merenung, dan terpikir, sepertinya ia pernah melihat cahaya itu, namun lupa dimana, dan mengapa ia takut dengan cahaya tersebut tadi malam, mungkin hanya sepontanitas saja pikir Hana menenangkan diri.

Hana menjadi –semakin- bingung, mengapa rumah ia begitu sepi pagi itu-tak seperti biasa, ibu membangunkan ia untuk masak-. Ia pun keluar dari kamar, lalu berkeliling sekitar rumah, namun tak kunjung Hana bertemu Ibu serta adik-adik ia. Semua terasa remang putih bagi Hana, seperti ada sebuah kekuatan yang menyelimuti perkampungan. Ia pandang sejauh sepanjang jalan berbatu depan rumah ia, dan sekitar, semua tak ada orang. Tiba-tiba, Hana melihat sosok ayah berjalan dengan menggendong anak bayi. Hana berusaha memanggil Ayah ia, namun hanya senyuman yang didapatkan. Lalu, semua ruang dan waktu menjadi proyektor waktu, yang memutar kenangan masa lalu daripada Hana. Berawal dari sungai ia ditemukan, lalu berkembang menjadi remaja, mengenal dunia, bersama teman merapal pantun dalam ngedio(17), menanggar keringat dalam ruah gerah betulung, bersua canda meramah dengan kawan, menangkup mata dalam pelukan ayah sembari merenung ucap nasehatnya, menangkup diri berdoa ibadah syukur pada Tuhan di keheningan malam, hingga sampai tatkala Hana hanya bisa terpaku melihat ayah terbujur dimandikan –ia tak bisa ikut memandikan, karena ia bukanlah kandung-. Hingga tak disadari, murni air mata mengaliri wajah Hana yang senggak-sengguk memerah haru.

“Hana...”, sekata suara seorang memanggil nama Hana. Hana pun mencari darimana suara tersebut berasal. Tak disangka, suara itu, berasal dari sosok cinta ia, Ayah Hana.Sontak saja, Hana terkejut berderai air mata yang tak habis mengalir sedari tadi, ia dapat bertemu kerinduan sosok Ayah. Lalu, dengan erat Hana memegang Ayah ia seolah tak ingin melepaskan lagi.

“Anak gadis ku, kau telah membaca tanda-tanda, hingga kau sampai disini. Ayah dan seluruh kawan di dunia telah membuat sebuah buku. Karena kami akan mengira bahwa dunia ini akan lenyap jika tak mempunyai mata budaya. Percuma jikalau terada raga, jiwa pun menghilang ke angksa. Engkau sejak kecil – di masa itu- tak pernah ku ajarkan budaya, karena ayah sudah tahu akan seperti ini. Lalu, kau kembali, dan menanamkan nilai budaya yang ayah ajarkan- di kehidupan kedua. Ayah bangga padamu Hanara Haguh..”, ucap Ayah Hana sembari mengelus helai-helai rambut Hana, dan itu terakhir kali belaian sayang dari seorang, Ayah Hanara Haguh.

Udara menangkup diri, hening, seolah merasakan keharuan seorang anak pada ayah angkat selaku kandung dalam bathin. Perlahan, kenangan itu-Ayah Hana-, menghilang menjadi butiran debu yang merelung cakrawala.sekawan Hanara Haguh pun dapat mengingat apa yang telah terjadi, dan kini Ia dan para sekawan yang terpilih, telah kembali ke masa kehancuran budaya, dan siap untuk mengembalikan cahaya budaya. Hana seorang dari mereka, dengan di samping ia terdapat sebuah buku, buku awanama yang telah membawa diri sampai sini, kini sudah bertajuk, dan nama buku tersebut, Piil Pesenggiri(18).

-o-

Nafsu adalah mata dari segala perilaku insan dalam hidup, bebas, tak terbatas, dan lepas. Begitu pun sebuah yang bernama, budaya, hanyalah suatu rupa bebas berkembang tak terkendali dalam kegelapan dunia. Karena yang dibutuhkan kita tidak hanyalah rupa, namun sesuatu nan mengangkat, menghidupkan, tak rupa di kasar, mereka itu ialah mata dari segala mata budaya yang selalu mengawasi, dan yang termaksud itu, cahaya budaya, atau dalam dimengerti ialah pandangan hidup.

The end

Catatan Kaki :


1. Lubang Hitam Budaya

2. Proyek Lubang Hitam Budaya

3. Lubang Putih Budaya

4.

5. Gotong Royong

6. Tempat Tidur

7. Wadah Air Nira

8. Pohon Aren

9. Wadah isi kue dsb, untuk membantu yang punya hajat.

10. Iya, Bu

11. Senin

12. Kamu

13. Saya

14. Membantu. (Jw) Rewang

15. Acara Sunatan

16. Ya

17. Acara Bujang Gadis Lampung dengan cara berbalas pantun

18. Pandangan Hidup Orang Lampung

No comments

Powered by Blogger.