Berlian Di Atas Karang (Sebuah Cerpen Karya Tita Wulandari)

Berlian di atas Karang


*Sebuah Cerita pendek karya Nursiamah Tita Wulandari

Gemericik hujan kembali membasahi bumi, kini aku bersembunyi tanpa ada yang mengenali. Aku bosan hidup begini, namun kuasa Allah menyadari bahwa hati ini hanyalah mengotori diri. Aku ingin berbakti namun aku juga tak ingin semua ini terjadi, awan semakin hitam, petir semakin menyambar geledek turut membuatku ketakutan. Hatiku terus berguncang, lisanpun terus bergoyang untuk sebuah dzikir yang selalu aku panjatkan agar getaran bumi tak datang. Daun pohon berterbangan, angin ribut membuat pohon tumbang, ranting pohonpun berjatuhan, tubuhku semakin dingin, wajahku semakin pucat, jantungku berdebar berantakan. mampukah aku bertahan ?

___

Sejak kecil aku lahir di tempat yang indah nan sejuk, tentram dan jauh dari keramaian, bunga bermekaran di setiap jalan, kupu-kupupun hidup tenang dan nyaman. Walau desaku hanya terdapat beberapa penduduk namun, kita tak bosan untuk melestarikan lingkungan , dengan demikian tak jarang penduduk kota singgah di kala liburan, aku cinta kampungku penuh warna-warni kehidupan. Sayangnya, tak semua orang mempercayai pendidikan mereka hanya berpikir kewajiban seorang wanita, seperti; masak, manak dan macak .

Bagi mereka dengan jago memasak, pandai membimbing anak dan pintar merawat diri itu sangatlah cukup, begitupun seorang pria hanyalah bisa mencari uang dan menafkahi keluarga, sama halnya seperti diriku, aku hanyalah wanita yang hanya lulusan SMP ( Sekolah Menengah Pertama ) beda dengan “Raden Putra Wijaksono”sebut saja Raden si tampan, pintar, rajin nan pandai, anak kelahiran kota namun tinggal di kampung halaman BERIMAN ( Bersih, Indah dan Nyaman ) bersama sang kakek.

“ Sarah, pasti aku akan merindukan kampung halaman ini dan kisah kita selama ini, aku janji setelah pendidikanku selesai aku akan kembali untuk meminangmu, percayalah.”

Teringat ucapan di kala itu, 7 tahun sudah aku tak bertemu dengannya 3 tahun lalu ia mengirimku sebuah surat berisikan jenjang pendidikanya di negri orang berlinanglah air mataku ketika mengingatnya, semua akan tenang ketika aku dapat meluapkannya. 

Bintang benderang menghiasi langit menyambut fajar, berharap hari ini lebih berkah dan menyenangkan, usai tahajjud aku lantunkan Ar-rahman berharap kasih sayang dari Sang Khaliq datang.

Ketika hari beranjak pagi, seperti biasa aku menuju pasar membeli sayuran, memasak dan membersihkan rumah setelah semua selesai aku hidangkan di meja makan. 

“ Nak, Bapak dan Ibu sudah memutuskan kamu menikah bulan depan. ”

Betapa berlinang air mata ini tak lagi nafsu untuk makan, aku hanya terdiam dan mengharap agar semua ini dapat di batalkan entah mengapa aku hanya dapat memikirkan satu hal mengenai perjanjian yang kini masih mengambang, apakah ini takdirku Tuhan ? 

“ kenapa kamu menangis nak, usiamu sudah 22 tahun, sudah saatnya menikah, Ibu malu dengan cibiran warga yang telah lama berhamburan datang, keluarga kita telah menjadi Buah Bibir mereka sayang.”

Aku tinggalkan ruang makan, tak peduli panggilan ibu dan bapak datang dari belakang pintu yang telah aku tutup rapat, aku tak ingin Adu Mulut bersamanya , sakit aku pendam, pilu aku tahan dengan air mata yang bercucuran, istighfar aku panjatkan , namun tetap saja pikiranku melayang, aku dobrak jendela kamar, berlari untuk emosi yang aku pendam, aku menuju danau tempatku bersamanya dahulu, aku dayuh satang tak peduli pohon tumbang, Awan Kelabu menjadi Awan Hitam, air mataku terus bercucuran aku lawan kesedihan dengan suara yang sangat kencang. 

“ Randi, di mana janjimu ? ” 

Gemericik hujan kembali membasahi bumi, kini aku bersembunyi tanpa ada yang mengenali. Aku bosan hidup begini, namun kuasa Allah menyadari bahwa hati ini hanyalah mengotori diri. Aku ingin berbakti namun aku juga tak ingin semua ini terjadi, awan semakin hitam, petir semakin menyambar geledek turut membuatku ketakutan. Hatiku terus berguncang, lisanpun terus bergoyang untuk sebuah dzikir yang selalu aku panjatkan agar getaran bumi tak datang. Daun pohon berjatuhan, angin ribut membuat pohon tumbang, ranting pohon berjatuhan, tubuhku semakin dingin, wajahku semakin pucat, jantungku berdebar tak karuan. mampukah aku bertahan ? 

“ Astaghfirullah, kakek siapa ? ”
“ gak usah takut nak, ini gubuk yang aman, tadi kakek menemukanmu di tempat idaman cucu kake dahulu, apa yang telah membawamu kemari nak ? ”
“ Maa Sya Allah, jadi kakek ini kakek Raden ? ”

Aku ceritakan keluh kesahku yang telah lama aku pendam, aku ceritakan dengan hati yang mulai. 

“ Nak, buan maksut kakek untuk Mencampur tangani masalahmu, namun menurut kakek, berbakti kepada orang tua sangatlah di utamakan, masalah hati memang tak mudah, akan tetapi coba resapilah Ia yang telah melahirkanmu, menyayangimu, mengayomimu sejak di rahim ibumu.”

Aku lelah dengan semua ini, Asam Garam telah aku lewati bersamanya, kembali aku panjatkan butiran mutiara doa untuk Sang pemilik alam. 

____

“ Saya terima nikah dan kawinnya Sarah Indah Nurmala Sari binti Abdurrahman dengan mas kawin 1 Milyar rupiah dan Haji Plus di bayar tunai.”  

Ucap Mas Hendra, seorang duda beranak dua berusia lima puluh dua tahun, pengusaha besar di sebuah kota yang sekarang telah sah menjadi suamiku.

Pernikahanku dengan Mah Hendra berjalan dengan lancar, walau hati ini masih berat, namun aku yakin Allah telah memberikan jalan yang terindah untuk kita semua, ketika resepsi berlangsung aku temui keramaian di depan, namun aku hiraukan itu semua karena kewajibanku menemani suamiku adalah suatu kewajiban yang telah aku genggam.

Usai satu hari pernikahan, Mas Hendra mendadak keluar kota karena urusan dinas yang mendesak, aku merasa sangatlah kesepian aku hindari gangguan setan yang saat ini mengguncang pikiran, ku ucapkan istighfar seraya ketakutan karena saat ini aku telah menjadi hak milik orang, air mata ini mengalir membasuh sukma mencari cinta ilahi Rabbi, syahdunya beristighfar memohon ampunan yang selalu aku panjatkan Ya Ghaffar. 

“ Assalamualaikum Neng Sarah ? ”
“ Waalaikumussalam, tunggu sebentar ! ”

segera aku usap air mataku, aku bukakan pintu rumah yang telah aku kunci rapat walau enggan sebab kantung mataku kusam, tetapi aku tetap sanjungkan tamu yang telah datang.

“ Maa Sya Allah Bude, mari masuk ada apa kemari bude ? ”
“ begini neng, anak pertama dari suamimu ingin bertemu neng ”
“ Alhamdulillah, suruh ia masuk, sarah buatkan minuman dulu yah bude ”   

Segera aku suguhkan teh manis dan camilan spesial untuk bude dan anak tiriku.

Ctarrrr.............. suara gelas pecah dan piring pecah menyatu seperti hatiku saat ini, tanganku lemas, wajahku pucat, kakiku tak bisa bergerak, hatiku hancur, air mataku tumpah, tubuhku lunglai, lisanku tak ber urat, rasanya aku ingin hilang di telan alam.

“ Astaghfirullah, Neng Sarah sabar Neng, Neng pasti kuat. Ayo, di minum dulu, bude ambilkan minyak kayu putih yah Neng ”

Air mataku tak terkendalikan, imanen aku rasakan , aku terdiam menangis dan lunglai melihat Raden dengar wajah memar serta tetesan air mata dari wajahnya yang tampan.

“ Assalamualaikum Sarah, izinkan aku berbicara walau hati terluka dan duka aku rasa, aku tak percaya semua ini akan terjada kepada kita, betapa perih hati ini ketika aku lihat dirimulah yang berada di samping Ayah, betapa hancurnya hati ini melihat mempelai cantik pujaan hati mililk ayahku sendiri, rencana untuk melamarmu di bulan depan kini hanyalah khayalan bagaikan debu yang berterbangan ”

Tersentuh hati ini, terisak jiwa ini, lenyap sudah harapan kami bersama, aku tak dapat menjawab semua takdir yang telah nyata aku hadapi.

“ Neng sarah, sekarang semuanya telah jelas, bude juga baru tahu kemarin di saat acara berlangsung seketika melihatmu langsung pingsan, bude pikir lelah ternyata faktanya begini, tak ada jalan lain kecuali sama sama neng ikhlaskan dan nak Raden mengikhlaskan, ikhlaskanlah nak”. Ucap Bude. 

 “ Sarah maafkan aku telah membuatmu terlalu menungguku terlalu lama, itu semua hanya karena aku ingin memanjakanmu ketika pernikahan kita nanti dengan jerih payahku sendiri, namun semua tak sesuai ekspetasi, ikhlaskanlah diriku dengan hati yang tulus, aku akan pergi dari hadapanmu, sayangilah aku bak anakmu bukan kekasihmu, maaf aku telat untuk dapat merangkulmu, jaga diri baik” lah, Wassalamualaikum.”  

____

Suamiku kini tak lagi kembali, sebelum menghadap ilahi rabbi ia meninggalkan 2 bidadari cantik kembar dan 1 pria dermawan nan jagoan, dua hafidzah yang akan mengiriku di alam yang kekal, dan satu pria dermawan pemimpin masa depan kehidupan, dua bidadari cantik yang dapat memikat keberkahan, satu pria dermawan memikat semua orang dari bermacam negara yang bersebrangan.

Raden pun telah memiliki seorang istri yang cantik, berpendidikan, sholihah dan pecinta Al Quran. Sungguh indah, jika kita petik dari suatu ketulusan hati, walau pahit di awal manis di belakang.

Puji syukur selalu aku panjatkan yang maha menciptakan.

Peribahasa jawa mengatakan  

“Ora ono kasekten sing madhani pepesthen, awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake, jadi tiada kesaktian yang menyamai kepastian dari tuhan, karena kepastian dari tuhan itu tiada dapat menggagalkan.”

______
Tentang penulis : Seorang freelance writter, kesehariannya terus berikhtiar menemukan pasangan yang ditakdirkan tuhan teruntuk dirinya :). Wanita kelahiran Banyuglugur, Situbondo.

5 comments:

  1. Karena semua akan indah pada waktunya, cukup yakin saja ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups, yang penting kita berpositif thinking saja pada yg maha kuasa

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.