Pilpres 2019: Sarang Empuk Hoax Media Daring



Persaingan sengit menuju pilpres kembali terjadi. Tak terasa waktu lima tahun masa jabatan pasca pilpres 2014 telah berlalu. Rasanya baru kemaren kita rasakan gemuruhnya nusantara menantikan siapakah yang akan menjadi orang nomor satu seantero negeri ini. Kini, tahun 2019 sebagai tahun politik pun akan menjadi penentu kursi presiden dan wakil presiden periode selanjutnya. Sejak awal kali pengumuman bakal capres dan cawapres, masyarakat Indonesia seolah-olah dibuat penasaran tingkat dewa karena penetapan paslon yang berubah-ubah. Kandidat kuat yang terendus media hanya menampilkan Jokowi dan Prabowo yang kembali unjuk kebolehan untuk mengisi jabatan presiden. 

Dengan kembalinya duel Jokowi-Prabowo, fokus masyarakatpun lebih tertuju pada siapa bakal cawapres yang akan mereka pilih. Hingga detik-detik terakhir penetapan, muncullah nama Sandiaga Uno seorang pengusaha muda yang rela menanggalkan posisinya sebagai wakil gubernur Jakarta untuk mendampingi Prabowo. Sedang untuk kubu Jokowi, nama tokoh NU KH. Ma’ruf Amin yang kemudian terpilih untuk membantu mengisi kursi cawapres. 

Pelbagai polemik pun turut mewarnai pencalonan capres-cawapres 2019 ini. Tak ayal jikalau para netizen yang selalu benar ini mulai menunjukkan taringnya dengan ikut andil dalam pelaksanaan pilpres ini. Sebagai contoh keadaan yang sangat santer saat ini adalah menjamurnya hoax tentang pelaksanaan pilpres. Media daring yang menjadi dunia generasi millenial pun akhirnya menjadi sasaran empuk untuk perkembangbiakan hoax-hoax tersebut. Heran rasanya jika pilpres yang seharusnya berjalan sesuai Luberjurdil harus ternodai dengan banjirnya hoax ini. Bahkan hoax yang mulai gencar ini tak tanggung-tanggung memangsa pengguna medsos seperti WhatsApp, Twitter hingga Facebook. 

Salah satu portal media online detikINET memaparkan bahwa paling banyak hoax masuk pada grup-grup WhatsApp. Ada-ada saja yang para pembuat hoax ini sebarkan pada grup-grup tersebut sehingga menimbulkan perang opini yang runyam. Kabar mengenai Ustad Abdul Somad yang masuk timses Prabowo-Sandi, beredarnya surat Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan bahwa putranya AHY akan bersanding dengan Prabowo untuk mengabdi pada Indonesia 2019-2024. Selain itu, hoax yang paling tidak masuk akal yakni saat media Indo Barometer diklaim menyebarkan meme yang memuat hasil survey dari Jawa barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. 

Untuk memastikan masyarakat Indonesia tak terkontaminasi hoax-hoax tersebut perlu beberapa hal yang harus dipahami bersama terutama bagi kalangan santri. Yakni, Pertama perlunya ceck and richeck secara jeli akan informasi yang beredar. Pemerintah bersama pers juga harus ikut andil untuk memberantas hoax-hoax ini. Kedua, stop menyebarkan kabar yang masih belum jelas kebenarannya. Dengan itu, kabar yang masih abu-abu ini jangan sampai mudah mempengaruhi mindset pembaca khususnya terkait dengan pilpres kali ini. Ketiga, ikutlah pelbagai komunitas atau grup-grup anti-hoax. Dengan bergabung dengan komunitas tersebut tentunya kita akan mudah mendapatkan informasi yang valid kebenarannya sehingga mempermudah kita sebagai pemilih untuk memilih dan memilah calon presiden kita. Dan Terakhir, Biasanya seorang santri akan selalu manut pada pilihan kyainya, namun tak manuai kemungkinan bahwa terkadang santri juga berbeda pilihan dengan kyainya. 

Karena itu, euforia pilpres kali ini janganlah sampai ternodai dengan kabar hoax ini. Menuju pilpres yang luberjurdil tentunya akan menjadi gambaran pemerintahan Indonesia yang baik kedepannya. Seluruh masyarakat santri maupun tidak harus bisa memfilter kabar yang santer menggaung terkait pilpres ini. Pilpres tanpa hoax, Indonesia pasti damai sejahtera.

____
Sumber Gambar : Unsplash.com

4 comments:

  1. Sampe sekarang pesta telah usai masih aja banyak bertebaran hoax.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, pesta demokrasi kita sudah usai dan berakhir dengan damai :)

      Delete
  2. semoga cebong sama kampret bisa damai,,

    ReplyDelete
  3. Amin, semoga setelah pesta demokrasi ini keadaan di Indonesia bisa damai kembali :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.