Menyikapi Politik dengan Arif dan Bijaksana




Indonesia sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, seluruh lapisan masyarakat di tuntut untuk menyuarakan hak kepemilihan terhadap capres dan cawapres, tepatnya pada 17 April. Namun hiruk pikuk politik tak lagi menjadi hal yang baru dari setiap masing-masing kubu. Siapapun nanti yang terpilih sebagai orang no 1 di Indonesia tak akan lepas dari keridhaan Allah sang maha pencipta dan pengatur kehidupan. Tak ada satupun diantara kita yang mampu menerka kekuasaan Allah.

Sebagai masyarakat, dan pemuda yang baik tentunya tak akan pernah membiarkan perpecahan menjadi asupan. Namun kenyataan pahit yang mencolok pasca liberalisasi adalah responden dari berbagai lapisan yang cenderung sensitif dan memanas sehingga kerap memicu perdebatan dari berbagai aliansi dan golongan. Bahkan saat ini dunia politik disandingkan dengan persoalan agama yang melibatkan para tokoh agama juga turut menjadi sorotan.

Para politikus mulai gencar mendekati kiai dan pesantren untuk meraup suara. Suara kiai seakan menjadi penentu dalam pemilu sehingga tak jarang kiai dan pesantren yang cenderung netral terhadap politik kini mulai terang terangan mengaku mendukung capres dan cawapres.

Politik tak seharusnya menjadi panggung sandiwara, menjadi alat untuk meraih banyak keuntungan dengan merugikan banyak subtansi. Politik seharusnya menjadi tempat menyatukan perbedaan dan pemikiran secara demokrasi terbuka tanpa kontroversi. Jangan hanya menggebu gebu mempertahankan pemikiran, membela mati matian dengan menyebarkan berita dan ungguhan kebencian. Menjelek jelekkan kubu lawan dan membanggakan kubu pertahanan.

Sebagai negara kesatuan seharusnya generasi muda terus menjunjung dan berpegang teguh terhadap nilai sila ke 3 dalam Pancasila yaitu, “persatuan Indonesia”. Selain itu, pemuda seharusnya menyikapi dunia politik dengan baik dengan menghargai pendapat, menghargai pilihan dan menghargai keputusan. Meskipun kontestasi capres-cawapres akan terus berjalan dengan berbagai persoalan.

Sebagai makhluk, masyarakat, dan pemuda alangkah baiknya kita merenungkan kembali mampukah kita memilih pemimpin negara yang benar-benar mampu memimpin Indonesia. Sedangkan dalam mengurus kepemimpinan dan mengurus urusan rakyat bukanlah sesuatu hal yang mudah. Apakah yang kita pilih mampu mengemban amanah? Atau mungkinkah orang yang kita caci maki adalah pemimpin yang baik? Namun dari berbagai perspektif politik Allah maha di atas maha. Namun pilihlah pemimpin yang jauh memahami Indonesia baik dalam geografis, sejarah, dan budaya hingga mampu memproyeksikan Indonesia ke depan. Mampu mengenali masyarakatnya bukan mengenali uang dan kekayaan Indonesia untuk golongannya. Bukan yang meninggalkan masyarakatnya dan bukan yang hanya berjanji sebelumnya tetapi ingkar setelahnya.

Politik Indonesia seharusnya disikapi dengan arif dan bijaksana. Di masa kampanye ini, bagi capres-cawapres, tim kampanye, relawan, tim sukses dan semua lapisan tim sukses mari ubah pola pikir kita dalam menanggapi permasalahan politik. Dan jadilah pemuda yang sadar politik bukan pemuda fanatisme politik.

___
Ditulis oleh : Saadatul Fitri (Mahasiswi prodi KPI Universitas Nurul Jadid)
tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di buletin Titah Edisi I April 2019
Sumber gambar : unsplash.com

4 comments:

  1. bernas banget tulisannya. ini temanmu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak! ini adalah tulisan dari beberapa kontributor kami :)

      Delete
  2. Iya harusnya cinta damai tapi pendukungnya kadang bikin pusing klo udah ngoceh di sosmed huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang mimin juga bingung ngelihat keributan antar 2 kubu. Mending mimin terus berkreasi aja ya! bikin tulisan, bagi info serta terus menginspirasi

      Terima kasih telah berkunjung :)

      Delete

Powered by Blogger.